Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Johny Syafrudin kepada detikFinance, Minggu (28/8/2011)
"Saya berpikir bukan film kita yang nggak bagus, masyarakat kita sudah berubah gaya hidupnya berorientasi luar negeri. Nggak tahu ya, bukan filmnya, tapi tren prilaku penonton kita sudah Amerika minded sampai ke masalah makanan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Johny mencontohkan untuk bioskop-bioskop seperti Pondok Indah Mal (PIM), EX, Plaza Senayan, Senayan City, Kelapa Gading dan lainnya menjadi pasar utama pemutaran film-film asing. Sementara bioskop-bioskop kelas dua dan kelas lainnya seperti Megaria, Slipi Jaya, dan beberapa bioskop pinggiran Jakarta seperti Tangerang, Bekasi, Bogor, film-film lokal masih mendapatkan tempat di mata penonton.
"Kalau kita lihat indikatornya biosksop kelas atas di Jakarta, nggak bisa naik di Ex, Plaza Senayan, Senayan City, Kelapa Gading, nggak ada penonton film Indonesia, nggak laku," tutur Johny.
Ia pun belum bisa mengetahui sejauh mana tingkat penonton dari film-film lokal yang sudah dirilis seperti Tendangan Dari Langit, Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap, Get Married 3 dan Di Bawah Lindungan Ka'bah. Faktanya film-film itu harus bersaing dengan film-film asing yang saat ini masih beredar seperti Kung Fu Panda 2, Fast and Furious 5, Transformers dan lain-lain.
"Sajiannya terpaksa seperti itu, bahwa rutinitas film-film kita ini bisa kita lihat, tapi dibilang bioskop nggak kasih tempat buat film lokal," kilahnya.
Menurutnya, sudah saatnya film lokal harus membuat merek dan strategi pemasaran yang jitu. Slogan-slogan dan dukungan pejabat tinggi seperti Menteri atau Presiden untuk menonton dalam rangka promosi, sudah tak efektif lagi bagi film lokal.
"Makanya perlu duduk bersama antara yang muter (pengusaha bioskop) dengan kreator mulai dari produser dan sutradara, selama ini nggak pernah duduk bersama," katanya.
(hen/wep)










































