Musim Kemarau Bikin Harga Beras Bertahan Tinggi

Musim Kemarau Bikin Harga Beras Bertahan Tinggi

- detikFinance
Selasa, 13 Sep 2011 12:08 WIB
Musim Kemarau Bikin Harga Beras Bertahan Tinggi
Jakarta - Masuknya musim kemarau belakangan ini secara langsung telah mempengaruhi harga beras di pasaran. Para pedagang mencatat harga beras cenderung stabil tinggi alias tak ada tanda-tanda turun.

Ayong Suherman Dinata pemilik CV Alam Makmur Sembada salah satu pedagang besar beras mengatakan belakangan ini kemarau telah banyak dirasakan petani di kawasan Jawa Tengah, Jawa Timur. Sementara kawasan Jawa Barat dan Sulawesi relatif belum terpengaruh adanya musim kemarau.

"Mengenai beras saat kemarau ini dari sisi stok ada, cuma harga tinggi sekarang ini harga beras tinggi stabil. Stok di swasta (pedagang) masih banyak," kata Ayong kepada detikFinance, Selasa (13/9/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan beberapa waktu lalu saat panen raya para pedagang masih menyimpan stok gabah dan beras. Meskipun ia mencatat harga serapan panen sekarang ini berlaku di Jawa untuk gabah kering panen (GKP) di sawah petani sudah dijual Rp 3.800 per Kg.

"Harga di petani masih mahal, kalau digiling (GKG) hampir Rp 7.000 per Kg itu sampai di Jakarta. Saat ini harga beras stabil tingi Rp 6.700-7.500 di tingkat grosir," katanya.

Berdasarkan cacatan harga rata-rata beras medium nasional oleh kementerian perdagangan hari ini mencapai Rp 7.452 per Kg.

Ayong mencontohkan saat ini harga beras dari Sulawesi ditingkat petani masih Rp 6.700 per Kg. Kondisi ini relatif masih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya yang hanya Rp 6.000-6.200 per Kg.

"Saya hitung perbandingan harga pada saat panen raya tahun lalu dengan sekarang beda lebih mahal 1.000 per Kg," jelasnya.

Ia menjelaskan alasan tingginya harga beras petani saat ini karena biaya produksi petani terus naik karena dibebani oleh kondisi alam yang ekstrem seperti kemarau. Apalagi modal kerja petani semakin besar karena akses pinjaman ke bank sulit sehingga mereka terjebak oleh sumber pembiayaan non bank yang memiliki bunga tinggi.

Sebelumnya ratusan pemilik tanah dan petani di Kabupaten Tegal terpaksa memanen dini tanaman padi mereka, menyusul kekeringan yang makin parah melanda kawasan tersebut. Sebagian besar dari mereka hanya bisa memanfaatkan setengah dari hasil panennya dari setiap petak sawah.

Ketua Paguyuban Petani Padi desa Kesemen Kecamatan Kramat, kabupaten Tegal, Solikhun mengatakan, hampir semua petani di kawasan ini memanen semua tanaman padi yang ada di petak sawahnya, meski masa panen baru tiba satu bulan mendatang.
(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads