"Kuartal ketiga ini kita mungkin sudah defisit dan kuartal empat defisit juga dan 2012 (seluruhnya) neraca kita akan defisit. Ini untuk neraca transaksi barang dan jasa," ungkap Juru Bicara BI, Difi Johansyah di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (21/9/2011).
Dalam beberapa tahun terakhir, tren neraca transaksi barang dan jasa terus mengarah pada defisit. Di 2009 tercatat masih surplus sebesar US$ 10 miliar, di 2010 surplus turun menjadi US$ 5 miliar,
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Defisit keseluruhan akan terjadi di 2012," imbuh Difi.
Menurut Difi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi menyebabkan impor mengalami kenaikan juga, khususnya barang baku dan barang modal. Dalam mendukung hal tersebut, maka kebutuhan akan valuta asing (valas) juga makin besar.
"Kalau nggak pinjam di Luar Negeri, terbitkan obligasi, bisa juga disuplai oleh capital inflow (aliran masuk modal asing) yang masuk untuk mencukupi kebut valas di sini. Kita memprediksikan pertumbuhan kita bagus ke depannya tapi diiringi oleh impor tinggi," terangnya.
Dalam mengantisipasi melonjaknya kebutuhan valas, bank sentral menerapkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Penerimaan Devisa Hasil Ekspor dan Penarikan Devisa Utang Luar Negeri, sehingga dana tersebut tidak lari ke luar tapi mengendap di perbankan domestik.
(dru/dnl)










































