Thailand yang kini merupakan eksportir beras terbesar dunia akan menaikkan harga pembelian minimum gabah petani sebesar 15.000 baht (US$ 485) per ton mulai Oktober. Harga saat ini adalah 10.000 baht per ton.
Langkah itu merupakan janji yang dilontarkan oleh para kolega mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra yang memenangkan pemilu pada Juli lalu. Skema tersebut mirip kebijakan yang dibuat pada era pemerintahan Thaksin yang turun karena kudeta pada tahun 2006.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kecuali perdagangan beras diganggu oleh kebijakan nasional, maka harga-harga mestinya masih tetap bergerak relatif stabil," jelas laporan tersebut seperti dikutip dari AFP, Senin (26/9/2011).
Lembaga tersebut juga memperkirakan produksi dunia akan naik tipis di atas konsumsi untuk periode 2011/2012.
"Jika, bagaimanapun, harga beras naik, perkembangan ini akan memiliki dampak berkebalikan pada keamanan pangan negara-negara berpendapatan rendah dan defisit pangan, terutama dalam konteks tingginya harga minyak dan aktivitas perekonomian dunia yang melambat," demikian laporan tersebut.
Beras saat ini merupakan makanan penting untuk lebih dari 3 miliar orang, atau sekitar setengah dari penduduk dunia. Thailand tercatat memasik sepertiga ekspor global, dengan konsumen terbesar dari China, Bangladeh, Filipina, Afrika Selatan dan Nigeria.
Menurut analis dari Capital Economics, harga beras tercatat sudah naik dari US$ 500 per ton pada awal Juli menjadi US$ 600 per ton setelah para petani Thailand menahan stok guna mengambil keuntungan dari kesepakatan harga.
Posisi dominan Thailand itu juga telah meningkatkan kekhawatiran harga beras akan melonjak tinggi seperti pada tahun 2008, ketika harga melonjak ke US$ 1.000 per ton karena adanya pembatasan ekspor dari India dan melonjaknya harga minyak mentah.
Capital Economics mengatakan, mereka sepertinya mencapai suatu tempat mendekati level 2008. Mereka mengatakan, tingginya proyeksi didasarkan pada asumsi Thailand akan mencadangkan beras dalam jumlah besar sehingga mereka akan menjualnya dengan diskon.
Namun kebijakan tersebut justru membuat para eksportir beras Thailand khawatir. Mereka cemas Thailand akan kehilangan posisinya sebagai eksportir global terbesar dan mengingatkan harga bisa menembus US$ 800 per ton.
Vichai Sripasert, kepala Riceland International pada pekan lalu mengatakan, harga itu bisa membuat harga beras Thailand lebih mahal dari siapapun.
"Setiap pemerintaha di dunia mensubsidi komoditasnya agar lebih kompetitif, tapi Thailand justru melakukan hal yng berkebalikan," ujarnya.
Departemen Pertanian AS memprediksi ekspor Thailand pada tahun ini akan mencapai 10 juta ton, dan merosot 20% pada 2012. Sementara perdagangan global diprediksi hanya turun 4% dari titik tertingginya pada 2011.
Dalam laporannya bulan lalu, mereka mengatakan para eksportir Vietnam telah menggunakan keuntungan daya saingnya terhadap Thailand guna menaikkan penjualan, sehingga terjadi kenaikan hingga 4% untuk kuota harga sejak Agustus seiring ketatnya suplai. Namun Vietnam yang merupakan pemasok beras terbesar kedua di dunia juga mencemaskan tingginya inflasi akibat kebijakan Thailand itu.
"Vietnam khawatir tingginya harga beras Thailand akan menyebabkan konsumsi beras domestik meningkat," ujar Chookiat Opaswongse, dari Asosiasi Eksportir Beras Thailand yang mengacu inflasi 2 digit Vietnam.
(qom/qom)











































