DPR Setuju Pembayaran SU 002 dan SU 004 Ditunda
Kamis, 08 Jul 2004 17:43 WIB
Jakarta - Komisi X DPR RI menyetujui usulan pemerintah untuk menunda pembayaran pokok SU 002 dan SU 004 sebesar Rp 8,6 triliun dan bunga sebesar Rp 3,3 triliun. Ini terkait dengan upaya menambah anggaran pembangunan tanpa menambah defisit dari pemerintah.Demikian kesimpulan antara Komisi X, pemerintah dan Bank Indonesia di Gedung MPR/DPR, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis, (8/7/2004)."Tahun 2005 kalau dibayarkan akan mengurangi anggaran pembangunan, maka kita usulkan untuk ditunda," kata Menkeu Boediono.Menurut Menkeu, penundaan ini juga dalam rangka restrukturisasi jangka panjang atas surat utang yang telah diamanatkan DPR, namun hingga saat ini belum diselesaikan oleh pemerintah.Sementara, Ketua Panitia Anggaran Abdullah Zainie menjelaskan, dalam rapat panja sebelumnya muncul keianginan agar anggaran pembangunan pada tahun 2005 lebih besar dibandingkan tahun 2004. Karena itu, diusulkan pembayaran SU 002 dan 004 ini ditunda.Dengan demikian, anggaran pembangunan dalam RAPBN 2005 yang semula hanya dianggarkan Rp 52,5 triliun jika ditambah dengan Rp 3,3 triliun (untuk pembayaran bunga), maka bisa mencapai Rp 55,8 triliun.Namun, jika pembayaran tidak ditunda, maka akan ada tambahan defisit dari semula Rp 16,5 triliun ditambah Rp 3,3 triliun menjadi Rp 19,8 triliun atau 0,9 persen dari PDB."Padahal kesepakatan defisit hanya 0,8 persen. Oleh karena itu kita minta untuk ditunda," katanya. Selain itu, pada 2005 beban pemerintah untuk pembayaran pokok dan bunga utang sangat besar."Tahun 2005 memang urgensi untuk tidak membayar sangat tinggi. Kalau dibayar akan ada tambahan defisit dan anggaran pembangunan berkurang," kata Zainie.Sementara Menkeu menambahkan, untuk defisit tahun 2004 meski saat ini telah mencapai Rp 16 triliun, diharapkan pada akhir tahun bisa mendekati target yang ditetapkan pemerintah.salah satu upaya pemerintah adalah menjaga pengeluaran dan juga penerimaan APBN. Ia juga menilai kondisi pasca pemilu presiden putaran pertama sudah mulai mambaik yang tercermin dari membaiknya kurs dan pasar modal."Pasar melihat proses aman sehingga mulai merespon dengan baik. Kurs dan juga pasar modal menunjukkan perbaikan psikologis," katanya.
(mi/)











































