Berikut disampaikan Direktur Utama AP I, Tommy Soetomo saat berbincang dengan detikFinance, di Jakarta, Rabu (2/11/2011).
"Ya harus diakui, bahwa sebagai pengelola kami cukup repot menghadapi kenyataan seperti itu," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami telah buatkan tenda, semacam waving gallery," tuturnya.
Menurut karyawan perusahaan jasa perjalanan wisata di Mataram, pengelola Bandara Internasional Lombok masih membebaskan sementara warga untuk berwisata, dengan dijaga oleh aparat TNI. Namun dalam beberapa waktu ke depan, masyarakat yang masih berkunjung ke Bandara Lombok, akan ditertibkan.
"Warga di sini masih belum biasa melihat ini. Jadi mereka datang, bahkan ada yang menginap," ucapnya.
Masyarakat Lombok Tengah tergolong masyarakat kelas menengah bawah. Dalam memenuhi kebutuhan hidup, mereka bertani dan berkebun tembakau. Namun, karena wilayahnya termasuk kering hingga panen padi (khususnya) tidak dilakukan secara berkala. Jenis sawah di Lombok Tengah adalah tadah hujan, dan tidak ada sistem irigasi yang ada di sana.
Sebagian masyarakat lain, berprofesi sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). "Di sini memang dikenal sebagai kantong TKI. Karena daerahnya tidak memungkinkan untuk bertani. Kalaupun mereka merantau, tidak ke Mataram, tapi ke Bali atau menjadi TKI," tutur Tommy.
Bandara Lombok, berlokasi cukup jauh dari ibukota Mataram. Dengan menempuh kendaraan roda empat, memakan waktu 60 menit untuk mencapai jantung kota. Meski kondisi jalan raya cukup baik, tidak disarankan melakukan perjalanan dari dan ke bandara Lombok di malam hari.
"Di sini kalau malam masih bahaya. Apalagi kalau berjalan sendiri. Memang ada (bus) Damri, tapi tidak dipastikan jadwalnya. Ada taksi, pakai argo. Tapi cuma dua perusahaan. Masyarakat memang sudah meminta ada penambahan dua armada taksi, tapi belum mendapat izin," imbuhnya.
(wep/dnl)










































