Konsumen Mobil Super Mewah Cenderung Tertutup

Konsumen Mobil Super Mewah Cenderung Tertutup

- detikFinance
Minggu, 06 Nov 2011 16:43 WIB
Konsumen Mobil Super Mewah Cenderung Tertutup
Jakarta - Orang kaya di Indonesia cukup banyak, sebagian besar adalah para pengusaha, dengan bisnis yang cemerlang. Dengan harta yang berlimpah, hobi mengoleksi mobil premium menjadi yang lumrah.

Namun sebagian besar dari orang-orang kaya itu, khususnya di Jakarta cenderung tertutup. Mereka tidak ingin identitasnya banyak diketahui publik, termasuk saat membeli mobil-mobil macam super mewah seperti Ferrari, Lamborgini, Porsche, Aston Martin, atau lainnya.

"Mereka tertutup. Tidak ingin diekspose. Rata-rata mereka pengusaha, hampir tidak ada pejabat pemerintah," kata General Manager Area Jakarta PT Mitsui Leasing Capital Indonesia, Daniel Mintarto di Jakarta, Minggu (6/11/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski tertutup, bukan berarti harta orang-orang kaya tersebut berasal dari tindakan pencucian uang. Menurutnya tertutupnya orang kaya karena karakter dari masing-masing individu.

Motif pembelian mobil premium dari orang kaya Jakarta, tidak melulu karena hobi. Sering kali mereka membeli mobil atas dasar gengsi, dan akan dilihat oleh rekan bisnisnya saat berkunjung.

"Mereka beli biasanya berdasarkan merek dan CC. Membeli juga karena gengsi. Belum tentu mereka pakai. Ada beberapa konglomerat," ucapnya.

Mitsui sendiri menyediakan program pembiayaan (leasing) mobil mewah, yang bekerja sama dengan Ivan Motor. Pembelian mobil premium melalui jasa leassor, membawa keuntungan kedua belah pihak.
Distributor tak lagi khawatir, cashflow-nya terbambat karena cicilan dibebankan kepada Mitsui. Pembeli juga bisa memanfaatkan sebagian uang sisa pembayaran tunai, sebagai modal usaha mereka.

"Biasanya mereka (leasing) dalam tenor pendek. Maksimal 4-5 tahun. Kami menawarkan pembelian tanpa DP. Kalau membandingkan, tenor pendek dengan ada DP, apa bedanya?," tuturnya.

"Selama ini banyak yang melakukan (pembiayaan) dari bank, tapi kan standarnya ketat. Kami menawarkan fleksibilitas. Karena orang seperti ini kan punya kemampuan lebih, hingga risikonya dapat lebih terukur," imbuh Daniel.
(wep/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads