Tujuh BUMN Minta Asetnya Dikelola PPA

Tujuh BUMN Minta Asetnya Dikelola PPA

- detikFinance
Jumat, 23 Des 2011 15:02 WIB
Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meminta PT Perusahaan pengelola aset (PPA) mengelola aset menganggur milik tujuh perusahaan plat merah. Aset-aset tersebut antara lain berupa gedung dan tanah.

Direktur Utama PPA, Boyke Mukijat mengatakan, Kementerian BUMN sudah mengajukan permintaan atas nama tujuh BUMN itu kepada PPA, untuk mengelola aset mereka seperti gedung dan tanah.

"Ada tjuh BUMN yang sedang dikaji kementerian BUMN agar dikaji aset nya oleh kami, hal ini dikarenakan ada beberapa aset korporasi BUMN yang tidak produktif dan sudah keluar dari core bisnisnya," ujar Boyke, di kantornya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (23/12/11).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tujuannya, kata Boyke, tidak lain untuk meningkatkan kinerja BUMN. Pasalnya, aset yang nganggur itu sebenarnya bisa dimanfaatkan dengan baik supaya terus produktif.

"Nanti kami (PPA) akan mengkaji lagi aset-aset tersebut baik digunakan untuk apa, dijual atau bagaimana atau bisa juga kerjasama dengan pihak lain," ujarnya.

Namun, Boyke tidak merinci ketujuh BUMN tersebut, tapi ada beberapa yang sudah pasti yakni dari PT Pertamina, PT Kereta Api Indonesia (KAI), dan PT PLN.

"Saya tidak ingat rincinya yang tujuh BUMN itu. Ya, yang jelas Pertamina, KA dan PLN," ujarnya.

Namun selain dari permintaan dari kementerian BUMN, ada juga perusahaan negara lain yang meminta langsung kepada PPA seperti PT Pos Indonesia dan PT Garuda Indonesia Airlines Tbk (GIAA).

"Tidak semua permintaan dari kementerian, ada juga yang lasung datang ke kami, seperti Garuda dan Pos Indonesia, rata-rata yang ingin dikelola adalah tanah dan gedung yang tidak produktif lagi," ungkapnya.

Seperti Garuda, rencananya kedua belah pihak akan mengelola aset tanah di Belitung yang rencananya akan dibuat resort bintang 5+.

"Ada juga Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) ada beberapa tanah perkebunannya yang kita coba nanti bagusnya dibuat apa. Ada juga PT Pos yang ingin bebeberapa gedungnya yang terletak di tempat prime seperti Jakarta, yang sudah tidak produktif agar bisa dikelola peruntukannya di bidang properti," tandasnya.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads