Lumbung Garam di Bali Ini 'Disulap' Jadi Surga Menyelam

Lumbung Garam di Bali Ini 'Disulap' Jadi Surga Menyelam

- detikFinance
Jumat, 30 Des 2011 08:26 WIB
Lumbung Garam di Bali Ini Disulap Jadi Surga Menyelam
Karangasem - Lebih dari sepuluh tahun lalu desa Amed di pantai sebelah timur Bali dikenal sebagai lumbung garam. Tapi apa daya, banjir garam impor dan bujukan investor asing tak kuasa dihadapi oleh ratusan petani garam di desa tersebut.

Sebelum tahun 2000, pendapatan petani garam di desa Amed ini hanya sebatas di Juli-Agustus saat musim panas. Jika musim penghujan datang, petani tidak dapat memanen garam dan terpaksa gigit jari. Belum lagi garam impor yang makin membuat petani kian terjepit.

Mulai tahun 2000 investor asing satu per satu mulai membeli tanah di pantai tersebut. Para petani garam tersebut lebih memilih melepas tanahnya dan perlahan beralih profesi. Sekarang desa ini dikenal turis asing dengan 'Amed Beach' yang berpasir hitam. Bisnis menyelam memang tengah menjamur. Banyak hotel yang menawarkan paket menyelam di kawasan ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dulunya masyarakat di sini itu hampir semua petani garam. Sekarang berubah, ada yang menjadi pekerja hotel-hotel di sini. Ada juga yang berbisnis dengan menyewakan tanahnya untuk dibangun hotel," kata pria muda yang berprofesi sebagai pelayan hotel kepada detikFinance di Pantai Amed, Tulamben, Karangasem, Bali, Kamis (29/12/2011).

Menurut pria muda ini, selain bisnis hotel, saat ini pantai Amed juga terkenal dengan surga menyelam (diving). Dari pantauan detikFinance, menyelam jadi daya tarik utama pariwisata di wilayah ini dengan tarif menggunakan euro. Tarif diving beserta alatnya bisa mencapai puluhan hingga ratusan euro.

Para penyelam menggunakan kapal tradisional jukung untuk mencapainya. Di sana mereka bisa melihat penyu, hiu karang, dan ikan pari di samping pemandangan terumbu karang yang sangat indah.

"Di sini turis yang datang kebanyakan dari Prancis," ujar pelayan itu. Tarif hotel pun juga menggunakan ukuran euro di lokasi tersebut.

Meski begitu produksi garam masih dilakukan dengan skala kecil. Di pinggir jalan desa itu terlihat masih ada toko warga yang berdagang garam secara kecil-kecilan dengan harga di kisaran Rp 2.000/kg.

"Ya garam di sini kalah mas sama garam impor," ujar pria muda ini.

Saat itu detikFinance tidak dapat melihat produksi garam yang masih tersisa karena sedang musim hujan. "Kalau lagi Juli atau Agustus bisa dilihat proses pembuatan garam tradisional di pantai yang masih tersisa," kata pelayan hotel ini.

Ironis memang melihat situasi ini. Indonesia kehilangan lumbung garamnya dan impor garam dilakukan meskipun garis pantai Indonesia adalah salah satu yang terpanjang di dunia.

Para petani garam di desa Amed tak bisa disalahkan karena mereka bisa memperbaiki kehidupannya dengan masuknya investor asing. Jerih payah petani garam panas-panasan di pantai dengan hasil hanya Rp 2.000/kg 'dibunuh' oleh masuknya garam impor.

Apa usahamu pemerintah?

(dnl/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads