"Saya istilahkan soto enak, dicampur dengan rawon enak, itu belum tentu rasanya enak, padahal sama-sama enak," ujar Dahlan beranalogi soal masalah itu. Hal itu disampaikannya saat berbincang dengan detikcom di Jakarta, Senin (2/1/2012).
Dahlan menjelaskan, dirinya ingin membentuk BUMN yang kompak. Untuk itu, Dahlan memutuskan agar yang dipilih Kementerian BUMN hanyalah untuk posisi Direktur Utamanya saja. Nah, setelah Dirut terpilih, Kementerian BUMN untuk melakukan dialog guna menentukan orang-orang yang akan menjabat sebagai direktur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena ini cenderung belum tentu kompak, dan tidak ada ketaatan kepada Direktur Utama. Karena merasa tidak ada peran Direktur Utama untuk mendudukkan dia, lebih parah lagi ya itu tadi, dia cari backing kemana-mana," tambahnya.
Dahlan mengakui sistem penentuan dirut dan direktur oleh kementerian BUMN di masa lalu itu telah menimbulkan masalah.
"Karena apa? Direktur Utamanya hebat, Direktur Keuangan hebat, Direktur Pemasaran hebat, Direktur Operasionalnya hebat, tapi belum tentu orang-orang hebat semua ini bisa berkumpul dalam 1 tim, belum tentu," tegasnya lagi.
"Oleh karena itu, kita pilih Direktur Utamanya, kita ajak duduk, bicara, siapa saja yang akan menjadi Direktur-direkturnya. Nah kita sediakan stok manusia yang bisa dipilih oleh Direktur Utama. Sejumlah orang ini adalah orang yang telah dikumpulkan dari BUMN-BUMN yang kita kumpulkan dalam satu gudang. Jadi orang-orang yang punya kemampuan skill itu ada datanya dalam BUMN, yang suatu saat bisa diambil jadi direktur dimana," paparnya.
Jika dalam database orang-orang hebat itu tidak ada yang sesuai, lanjut Dahlan, baru kemudian dicari dari orang luar.
"Supaya career planning di BUMN juga bagus. Orang kerja di BUMN juga berpikir saya ini bisa punya kesempatan jadi Direktur suatu saat. Kalau kebiasaan semua Direktur dari luar, nanti nggak ada motivasi kerja dari BUMN," tambahnya lagi.
(qom/hen)











































