Menurut Ekonom di DBS Research Group Singapura, Eugene Leow, saat kenaikan harga BBM di 2008, terjadi pengaruh terhadap kenaikan inflasi non inti 1,2%. Dan sekarang, hal yang sama bisa terjadi. Khususnya adanya kenaikan harga dikisaran 15%.
"Angka ini yang kemungkinan akan menjadi batasan pemerintah dalam menetapkan kenaikan harga," jelasnya dalam keterangan tertulis, Minggu (15/1/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi DBS, kedua langkah pemerintah ini diambil karena melihat perlambatan ekonomi yang terjadi di dunia. Selain juga juga ada keraguan apakah kenaikan harga listrik dan BBM tersebut, akan berdampak buruk terhadap pasar domestik.
"Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah keraguan apakah pembatasan BBM bersubsidi akan dapat diimplementasikan dengan mudah," tuturnya.
Ia menegaskan, harga barang diperkirakan tetap stabil, kecuali terdapat perubahan kebijakan. Harga akan turun pada triwulan I-2012, dan akan meningkat secara perlahan sampai ke level 5% di akhir tahun.
Pihaknya memprediksi, tingkat inflasi rata-rata akan menyentuh 4,5%. "Dari perspektif kredit, pertumbuhan utang telah stabil di kisaran 1,9% (MoM, sa) di sebelas bulan pertama tahun 2011, jauh dari ekses pertumbuhan sebesar 3% yang terjadi pada akhir tahun 2007 dan 2008," katanya.
"Pertumbuhan kredit yang moderat dari proyeksi 25% di tahun 2011, diprediksikan akan terjadi ditengah tekanan faktor ekternal yang lebih besar. Hal ini akan berakibat pada tekanan inflasi yang lebih ringan," imbuhnya.
(wep/hen)










































