Menurut pengakuan Jhonny, masalah utama yang menyebabkan dirinya berniat mundur adalah karena tak kunjung jelasnya kucuran suntikan modal negara ke Merpati.
"Tahun lalu kami sudah membuat rencana bisnis besar hingga 2020 untuk membangkitkan Merpati dan kami mengharapkan adanya PMN (Penyertaan Modal Negara) Rp 561 miliar ke Merpati pada Maret 2011, namun ternyata baru cair di Desember 2011. Ini membuat rencana revitalisasi alat-alat produksi Merpati tidak terlaksana," tutur Jhonny kepada detikFinance, Rabu (8/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, untuk 2012 Merpati meminta tambahan suntikan modal Rp 250 miliar kepada pemerintah melalui persetujuan DPR. Namun kepastian tersebut belum kunjung jelas. "Yang pasti tidak ada penolakan dari DPR," ujar Jhonny tegas.
Ketidakjelasan soal suntikan modal inilah yang membuat Jhonny berniat mundur, karena merasa tidak mau menjadi ganjalan bagi Merpati. Karena ketidakpastian suntikan modal membuatnya tidak bisa bergerak membuat perencanaan bisnisnya.
"Kalau umpamanya saya yang jadi masalah kasihan Merpatinya kalau terkena akibatnya. Mendingan saya jangan di sini. Namun yang pasti Merpati masih cerah prospeknya," kata Jhonny menjelaskan alasan permohonan mundurnya.
Permintaan mundur Jhonny ini langsung tidak direstui oleh Dahlan Iskan. "Pak Dahlan bilang, itu pengecut namanya. Pedagang dan pengusaha itu harus kuat," ucap Jhonny meniru ucapan Dahlan.
Karena sokongan semangat dari Dahlan ini, maka Jhonny kembali berniat untuk menyelesaikan semua permasalahan di Merpati ini. "Pak Dahlan bisa merasakan Merpati seperti apa, dan dia punya sense soal bisnis Merpati ini," tukas Jhonny.
Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengungkapkan bahwa Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) Sardjono Jhony Tjitrokusumo meminta mundur dari jabatannya. Jhony merasa dirinya tidak dipercaya dalam menjalankan tugasnya sebagai orang nomor satu di maskapai milik pemerintah itu.
Dahlan juga mengatakan mundurnya Jhony terkait lambannya pencairan PMN Rp 561 miliar yang direncanakan akan dicairkan Oktober, namun ternyata baru terealisir Desember 2011. Padahal Merpati memerlukan dana itu untuk pengembangan dan pelaksanaan business plan, termasuk pelunasan utang yang semakin menumpuk.
Penyertaan modal ini juga dianggap kurang, untuk itu perseroan meminta dana tambahan sebesar Rp 250 miliar. "Akibat tertunda, Merpati terlibat banyak pinjaman," tuturnya.
Namun Dahlan mencoba untuk menahan niatan Jhony untuk mundur dari Merpati. Niat Dahlan ini juga mendapat dukungan dari seluruh karyawan, yang kini sangat solid.
(dnl/qom)










































