Dirut: 2011 Tahun Terburuk dalam Hidup Merpati

Dirut: 2011 Tahun Terburuk dalam Hidup Merpati

- detikFinance
Rabu, 08 Feb 2012 12:01 WIB
Dirut: 2011 Tahun Terburuk dalam Hidup Merpati
Jakarta - Kondisi keuangan maskapai penerbangan plat merah PT Merpati Nusantara Airlines masih 'berdarah-darah'. Tahun 2011 lalu, kinerja Merpati merupakan yang terburuk.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines Sardjono Jhony Tjitrokusumo kepada detikFinance, Rabu (8/2/2012).

"Tahun lalu itu buruk. Jadi 2011 adalah tahun terburuk dalam hidup Merpati," ujar Jhonny.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jhonny tidak mau memaparkan berapa pendapat yang diterima Merpati dan perbandingannya. Namun yang pasti, ujar Jhonny, Merpati masih merugi tahun lalu.

Di tahun ini, Jhonny mencoba untuk optimistis dengan kinerja Merpati setelah mendapat suntikan Rp 561 miliar akhir tahun lalu dan berharap ada tambahan suntikan Rp 250 miliar tahun ini. Meskipun suntikan Rp 250 miliar tak didapat, Jhonny mengaku bakal terus berjuang.

"Tahun ini Merpati berencana mempunyai 17 jet baru yang didapat dari leasing (menyewa). Target pendapatan tahun depan adalah Rp 3,5 triliun dengan profit margin 2%. Jadi ini sangat reasonable. Apakah bisa dicapai? Bisa tapi dengan kerja keras. Pak Dahlan (Menteri BUMN) meminta kami fokus kepada bisnis inti agar bisa survive (bertahan)," papar Jhonny.

Jhony sebelumnya mengaku sempat menyatakan niatnya untuk mundur namun tidak diizinkan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan. Ia ingin mundur di tengah kondisi Merpati yang tak kunjung mendapatkan bantuan PMN dari pemerintah.

Dahlan Iskan mengungkapkan Jhony meminta mundur dari jabatannya karena tidak dipercaya dalam menjalankan tugasnya sebagai orang nomor satu di maskapai milik pemerintah itu.

Dahlan juga mengatakan mundurnya Jhony terkait lambannya pencairan PMN Rp 561 miliar yang direncanakan akan dicairkan Oktober 2011, namun ternyata baru terealisir Desember 2011. Padahal Merpati memerlukan dana itu untuk pengembangan dan pelaksanaan rencana bisnis, termasuk pelunasan utang yang semakin menumpuk.

Penyertaan modal ini juga dianggap kurang, untuk itu perseroan meminta dana tambahan sebesar Rp 250 miliar. "Akibat tertunda, Merpati terlibat banyak pinjaman," tuturnya.

Namun Dahlan mencoba untuk menahan niatan Jhony untuk mundur dari Merpati. Niat Dahlan ini juga mendapat dukungan dari seluruh karyawan, yang kini sangat solid.


(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads