Infrastruktur RI Mandeg karena Korupsi

Infrastruktur RI Mandeg karena Korupsi

- detikFinance
Rabu, 15 Feb 2012 13:12 WIB
Infrastruktur RI Mandeg karena Korupsi
Jakarta - Sampai saat ini pembangunan infrastruktur di Indonesia belum ada kemajuan berarti sehingga ongkos ekonomi mahal. Salah satu penyebab mandegnya infrastruktur adalah budaya korupsi.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Institute for Development and Finance (INDEF) Ahmad Erani Yustika dalam seminar infrastruktur di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (15/2/2012).

"Pembangunan infrastruktur di Indonesia masalahnya adalah korupsi dan pembebasan lahan. Korupsi di Indonesia sama dengan Filipina dan lebih parah dari Malaysia," ujar Erani.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Erani, bobroknya kondisi infrastruktur di Indonesia memberatkan pengusaha. Biaya logistik sangat tinggi dan menyebabkan daya saing produk-produk asal Indonesia kalah jauh.

"Pengurusan dokumen di Tanjung Priok bisa mencapai 6 hari, sementara di Singapura hanya 1 hari. Intinya adalah kita harus bisa menurunkan biaya logistik di bawah 10% dari total biaya produksi agar daya saing produk kita bisa mengalahkan negara tetangga seperti Malaysia," papar Erani.

Dari data yang dibawa Erani, hingga November 2011 rata-rata biaya logistik di Inodnesia adalah 17% dari total biaya produksi. Sedangkan Singapura hanya 6% dan di Malaysia 8%.

Saat ini pemerintah telah mencanangkan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) untuk infrastruktur senilai ribuan triliun rupiah.

Di antara pemerintah saat ini sedang muncul wacana pembentukan bank infrastruktur. Menteri Perekonomian Hatta Rajasa menginginkan didirikannya sebuah bank yang berfungsi sebagai pembiayaan infrastruktur. Namun keinginan Hatta ternyata berbeda dengan Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang memandang pendirian bank baru terlalu 'ribet'.

Kepala Tim Ekonomi Divisi Perencanaan Strategis BNI Ryan Kiryanto mengatakan, pembuatan bank infrastruktur kurang perlu karena menyangkut proses politik, legalisasi yang terlalu lama.

"Sehingga kalau itu dilakukan kurang efektif. Sebaiknya pemerintah mendorong bank-bank besar seperti BNI atau Mandiri yang punya kapasitas untuk menyalurkan kredit infrastruktur untuk mengalokasikan 20-30% dari total portofolio kreditnya untuk infrastruktur," tukas Ryan di tempat yang sama.


(dnl/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads