Malaysia Lebih Cepat Ajukan Calonnya di Bank Dunia

Malaysia Lebih Cepat Ajukan Calonnya di Bank Dunia

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Senin, 12 Mar 2012 21:33 WIB
Malaysia Lebih Cepat Ajukan Calonnya di Bank Dunia
Jakarta - Walaupun pengajuan formal calon Presiden Bank Dunia belum terlihat, namun kampanye aktif telah terjadi. Hal ini dilakukan oleh negara-negara berkembang yang masuk dalam lembaga G24, dimana Indonesia belum masuk menjadi anggota.

Salah satu negara yang agresif mengusulkan calonnya untuk presiden bank dunia adalah Malaysia. Disisi lain bank dunia belum mendapat permintaan resmi dari Pemerintah Indonesia perihal calon Presiden Bank Dunia yang akan diusung Indonesia.

"Ada berbagai blog atau kelompok aktif melakukan sirkulasi nama. Dari kelompok lain cukup aktif, G24," jelas Direktur Eksekutif Bank Dunia Hekinus Manao kepada wartawan di kantor Kementerian Keuangan, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (12/3/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Negara-negara G24 mengajukan 18 nama calon kuat Presiden Bank Dunia menggantikan Robert Zoellick. Apakah Sri Mulyani masuk dalam 18 calon tersebut? Hekinus tidak mengetahui secara pasti.

"Mereka edarkan 18 nama. Sekarang masih lobi-lobi. Namun yang sudah ajukan resmi adalah Malaysia. Satu lagi Fiji yang mendukung satu nama namun tidak mencalonkan," imbuh Hekinus.

Ia mengatakan kesempatan perwakilan negara-negara berkembang untuk menempatkan wakilnya di Bank Dunia terbuka lebar, usai dibukanya mekanisme pencalonan dari negera-negara anggota untuk masuk Board of Director.

Harapan satu suara untuk mengusung satu jagoan terhebat pun disuarakan agar dominasi Amerika Serikat dalam 'menunjuk' orangnya di Bank Dunia tak lagi terulang.

"Sekarang adalah waktunya developing nation. Mau nggak (mengusulkan) karena kan sudah dibuka. Kalau seluruhnya cuma satu calon kan bagus. Hingga ada dukungan utuh. Ini kesempatan dan tunjukkan!," katanya.

Selama ini hingga terakhir terpilihnya Robert Zoellick, nyaris tidak ada peran negara berkembang di Bank Dunia. Hanyalah kuasa Amerika Serikat untuk menunjuk wakilnya sebagai orang nomor satu di lembaga keuangan multilateral ini.

"Waktu itu aturannya hanya Presiden ditunjuk oleh Dewan Direktur. By law mekanismenya tidak ada. Pelaksanaannya, nggak pernah ada penjabaran. Tapi praktik dipilih oleh Presiden AS. Dewan Direktur diem aja," paparnya.

Untuk itu, periode pemilihan Presiden Bank Dunia teranyar harus dimanfaatkan sepenuhnya. "Terus terang ada rasa ketakutan, developing nation tidak keluar calon. Tidak mesti calonnya harus menang," tegas Hekinus.

(wep/hen)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads