Proyek Kereta Cepat di RI akan Kikis 'Budaya Jam Karet'

Proyek Kereta Cepat di RI akan Kikis 'Budaya Jam Karet'

- detikFinance
Senin, 19 Mar 2012 18:38 WIB
Proyek Kereta Cepat di RI akan Kikis Budaya Jam Karet
Jakarta - Budaya 'Jam karet' diharapkan bisa terkikis dengan adanya proyek kereta super cepat Jakarta-Bandung. Berdasarkan pengalaman di negara-negara maju seperti Jepang, kereta model ini butuh kedisiplinan bagi penggunanya.

Direktur Kerja Sama Pemerintah dan Swasta dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bastari Panji Indra mengatakan jika Indonesia punya kereta cepat dengan ketepatan jadwal membawa dampak positif. Yakni mengajarkan masyarakat disiplin dan menjauhkan dari kebiasaan 'jam karet'.

"Kereta cepat kan waktunya tepat. Datangnya tepat. Jadi lebih baik, adanya disiplin. Jadi kita bisa mengukur ketepatan waktu," tutur Bastari di Hotel Pullman, Jakarta, Senin (19/3/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Arahannya nanti kepada efektifitas dan efisiensi. Nggak ada lagi jam karet dengan teknologi dari sistem (kereta cepat)," tambahnya.

Seperti diketahui, kereta cepat Jakarta-Bandung tengah digagas pemerintah. Melalui skema kerja sama public private partnership (PPP), pembangunan proyek ini menghabiskan dana Rp 56,108 triliun atau setara US$ 5,95 miliar.

Perkiraan biaya ini didapat dari hasil studi kelayakan awal yang dilakukan MLIT bersama Japan Railway Techbical Service (JARTS) dan Yachiyo Engineering Co. Ltd). Kereta ini bahkan menjanjikan waktu tempo 45 menit-50 menit karena memiliki kecepatan 210 km per jam.

Swasta dan Pemerintah Jepang mengaku berminat jadi investor dalam pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung senilai Rp 56 triliun. "Swasta dan pemerintah Jepang minat, baik aspek teknis maupun finansial. Dalam pengembangan Shinkasen (kereta cepat) kami punya pengalaman 47 tahun. Untuk industri kereta api 145 tahun," tegas Deputy Director General Railway Biro The Ministry of Land, Infrastructur, Transport and Tourism of Japan (MLIT) , Hirosi Tabata.

Konsep kereta cepat juga dianggap ideal dan menjadi solusi transportasi umum di Indonesia. Namun, saat partisipasi swasta sangat dominan tarif kereta cepat pun menjadi tinggi Rp 200 ribu. Apakah layak?

(/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads