"Apa yang kita lakukan, managing distribution subclasses. Kalau naik, geser ke harga yang tinggi. Kalau kondisi normal harga murah jumlah seat-nya sedikit. (Saat avtur naik) maka yang murah ditutup. Kita buka kelas menengah dan atas," jelas Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan di Jakarta, Rabu (21/3/2012).
Kondisi terkini, harga avtur masih normal. Pergerakan harga belum menyentuh batas atas US$ 120 per barel atau nilai tukar rupiah Rp 10 ribu. "Pada kuartal I Januari-Februari indikatonrnya masih bagus. Kondisi yang sama hampir sama terjadi di awal 2011, Januari harga (avtur) US$ 90 dan sekarang US$ 110," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Garuda tentu ingin pertumbuhan di atas pasar. Pertumbuhan maksimal dikontribusikan dari Citilink, karena kita akan menambah 11 pesawat," ucap Elisa.
"Penetrasi di Indonesia masih kecil dalam airlines. Demand akan jauh lebih tinggi. Kita tidak terlalu khawatir atas kondisi Eropa dan AS, yang jelas strategi kita tidak rugi," papar Elisa.
Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar menambahkan, 2012 perseroan akan mendatangkan 18 pesawat baru. Jenis pesawat baru diantaranya Bombardier CRJ1000 NextGen, Boeing B737-800 NG, Airbus A330-200 serta Airbus A320 khusus untuk penerbangan murah Citilink.
"Dengan kedatangan pesawat baru tersebut, jumlah armada Garuda mencapai 105 pesawat dengan rata-rata usai 5,8 tahun. Pesawat Bombardeir digunakan untuk melayani penerbangan rute domestik dan regional melalui hub Makassar, Medan, Balikpapan mulai akhir 2012," tegas Emirsyah.
(/)











































