Pasca Ledakan Mesin, Qantas A380 Siap Terbang Lagi

Pasca Ledakan Mesin, Qantas A380 Siap Terbang Lagi

Metta Pranata - detikFinance
Jumat, 20 Apr 2012 17:21 WIB
Pasca Ledakan Mesin, Qantas A380 Siap Terbang Lagi
Jakarta - Pesawat Qantas A380 yang mengalami ledakan mesin saat mengudara 18 bulan lalu akan terbang lagi mulai besok. Airbus yang dijuluki Nancy-Bird Walton ini akan terbang pulang ke Sydney dari Singapura.

“Perbaikan A380 menelan biaya AU$ 139 juta (Rp 1,3 triliun). Semuanya dibayar asuransi,” kata Thomas Woodward, juru bicara Qantas seperti dilansir dari Sydney Morning Herald (20/4/2012). Qantas A380 melakukan pendaratan darurat di Singapura pada 4 November 2010 setelah salah satu dari keempat mesin Rolls-Royce Trent 900 itu meledak di atas Indonesia.

Keseluruhan perbaikan memakan waktu 8 bulan, termasuk membangun ulang mesin dan beberapa bagian kulit pesawat. Selebihnya, pesawat yang dinamai dari salah satu pilot wanita pertama di Australia ini 'parkir' di bandara Changi Singapura, menunggu akses ke hanggar maintenance.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama dalam masa perbaikan, para teknisi juga menemukan retak tipis di rusuk penunjang sayap pesawat. Namun retak ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan ledakan mesin. Penemuan ini membuat pemeriksaan A380 di seluruh dunia dibuat menjadi lebih ketat dan menyeluruh.

Qantas A380 akan kembali beroperasi normal pada 28 April dengan rute penerbangan perdana menuju Hong Kong. Kembalinya pesawat berkapasitas 450 tempat duduk itu akan meningkatkan jumlah penerbangan Qantas menjadi 12. Membantu rencana percepatan pensiun Boeing 747 yang konsumsi bahan bakarnya lebih boros.

“Semakin tua pesawatnya, semakin banyak biaya yang harus Anda keluarkan supaya dia tetap beroperasi. Tidak hanya biaya bahan bakar, namun juga biaya perawatannya,” kata Mark Williams, analis Royal Bank of Scotland Group di Sydney.

Mengganti pesawat lama bisa membantu penghematan konsumsi bahan bakar. Apalagi harga minyak di pasar Singapura sudah naik 40% selama dua tahun belakangan. Qantas masih harus menghadapi kenaikan biaya bahan bakar sebesar AU$ 300 juta dalam enam bulan ke depan karena harga masih tinggi dan jumlah penerbangan meningkat.

Qantas memenangkan kompensasi sebesar AU$ 95 juta (Rp 902,5 miliar) dari Rolls-Royce atas segala gangguan yang ditimbulkan dari insiden tersebut. Semua armada A380 milik Qantas terpaksa 'dikandangkan' lebih dari tiga minggu.

Total biaya terkait insiden ledakan mesin di udara itu diperkirakan mencapai AU$ 234 juta (Rp 2,2 triliun), melebihi harga sebuah Boeing 787-9 Dreamliner yang sekitar AU$ 220 juta (Rp 2,1 triliun).

Menurut regulator keamanan, ledakan disebabkan kebocoran minyak yang menyulut percikan api di dalam mesin. Rolls-Royce London kemudian merevisi prosedur mereka, termasuk mengganti part baru.

Juru bicara Airbus, Sean Lee mengatakan pembuat pesawat tidak akan berkomentar dalam briefing media di Singapura hari ini. Karun Arya, juru bicara Rolls-Royce Singapura tidak menjawab telepon dari media yang meminta komentarnya.

Pada Februari silam, Chief Executive Officer, Alan Joyce mengatakan akan kembali 'mengistirahatkan' dua Boeing 747. Sudah empat Boeing 747 yang dipensiunkan bulan itu. Per Juni 2011, Qantas memiliki 20 jumbo jet dan akan segera bertambah karena 50 pesawat Boeing 787 baru siap diantar mulai tahun depan

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads