Dari data BPS yang dikutip, Senin (7/5/2012), pada Februari 2012, tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk pendidikan menengah masih tetap menempati posisi tertinggi, yaitu TPT Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 10,34% dan TPT Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 9,51%.
Jika dibandingkan keadaan Agustus 2011, TPT pada hampir semua tingkat pendidikan cenderung turun, kecuali TPT untuk tingkat pendidikan SD ke bawah naik 0,13% poin dan TPT untuk tingkat pendidikan Diploma I/II/III naik 0,34% poin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyerapan tenaga kerja hingga Februari 2012 masih didominasi oleh pekerja berpendidikan rendah yaitu SD ke bawah 55,5 juta orang (49,21%) dan Sekolah Menengah Pertama sebesar 20,3 juta (17,99%). Pekerja berpendidikan tinggi hanya sekitar 10,3 juta orang mencakup 3,1 juta orang (2,77%) berpendidikan diploma dan 7,2 juta orang (6,43%) berpendidikan universitas.
Perbaikan kualitas pekerja ditunjukkan oleh kecenderungan menurunnya pekerja berpendidikan rendah (SMP ke bawah) dan meningkatnya pekerja berpendidikan tinggi (diploma dan universitas).
Dalam setahun terakhir, pekerja berpendidikan rendah menurun dari 76,3 juta orang (68,6%) pada Februari 2011 menjadi 75,8 juta orang (67,2%) pada Februari 2012. Sementara, pekerja berpendidikan tinggi meningkat dari 8,9 juta orang (7,96%) pada Februari 2011 menjadi 10,3 juta orang (9,19%) pada Februari 2012.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Suhariyanto menilai adanya fenomena di mana para pekerja formal meningkat dan peningkatan pekerja untuk berpendidikan tinggi, serta adanya perpindahan sektor tenaga kerja dari pertanian ke industri merupakan cermin pertumbuhan ekonomi yang berkualitas karena kesejahteraan masyarakat akan membaik.
"Pengangguran terdidik itu menurun, yang bahaya kan kalau yang terdidik ini menganggur karena mereka ini berpikir lebih kritis dalam memaknai hidup," ujarnya.
Suhariyanto menekankan agar jangan sampai terlalu banyak penyerapan tenaga kerja. Pasalnya, produktivitas pekerja akan menurun.
"Kalau 1 persen menyerap berapa tenaga kerja belum tentu baik karena produktivitasnya akan rendah. Jadi, bagusnya itu sedang, tapi produktivitas dijaga," pungkasnya.
(dnl/hen)











































