Neraca Perdagangan Surplus, RI Masih Aman dari Krisis

Neraca Perdagangan Surplus, RI Masih Aman dari Krisis

- detikFinance
Kamis, 07 Jun 2012 13:44 WIB
Neraca Perdagangan Surplus, RI Masih Aman dari Krisis
Jakarta - Sejak 2008 neraca perdagangan Indonesia selalu surplus sehingga pemerintah optimistis Indonesia masih aman dari 'virus' krisis Eropa. Hal ini diyakini oleh Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi,

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Indonesia masih cukup kuat dari terpaan krisis. Salah satunya sejak 2008 hingga April 2012 neraca perdagangan kita selalu surplus khususnya untuk non Migas," kata Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi, di Kantornya, Kamis (7/6/2012).

Dikatakan Bayu, berdasarkan neraca perdangan bulanan, selama 60 bulanan terakhir neraca perdagan Indonesia selalu surplus. "Dan sejak 2008 kita hanya mengalami 3 kali neraca perdangan bulanan mengalami defisit, yakni pada April 2008, Juli 2008 dan Juli 2010," ungkap Bayu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada April 2008 neraca perdagangan bulanan defisit sebesar US$ 725 juta namun pada Mei 2008 neraca perdagangan bulannya justru surplus sebesar US$ 1,25 miliar. Sementara pada Juli 2010 neraca perdagangan defisit sebesar US$ 139 juta namun pada Agustus 2010 surplus US$ 1,6 miliar.

Bayu mengatakan sinyal perekonomian Indonesia masih baik, bahkan dalam kunjungannya di pertemuan APEC, banyak negara menganggap Indonesia sangat potensial dan terbuka.

"Sinyal investor ke Indonesia masih sangat baik, tidak ada yang dikhawatirkan, tidak negara yang semenarik ini selain Indonesia," ujarnya.

Walaupun diakui, sejak Januari-April 2012 kinerja ekpor Indonesia mengalami pelemahan hanya tumbuh 4,1%. Sementara itu dari Januari-April 2011 tumbuh 30,1%.

"Tetapi pelemahan ekspor ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi negara-negara lain khususnya negara yang pada 2011 pertumbuhan ekspornya sangat baik seperti Jepang, Korsel, Brazil, China," tandasnya.

Diungkapkan Bayu, Jepang pada Januari-April 2011 tumbuh 9,1% namun pada periode yang sama pada 2012 turun hanya tumbuh 3,8%. Korsel pada periode tersebut 2011 tumbuh 27,% namun pada periode yang sama 2012 hanya tumbuh 0,9%.

Bahkan seperti Brazil yang pada Januari-April 2012 ekspornya tumbuh 31,3% namun pada periode yang sama tahun 2012 hanya tumbuh 4,5%. China pun mengalami yang sama dari Januari-April 2011 tumbuh 27,4% namun periode yang sama tahun ini hanya tumbuh 6,8%.

(rrd/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads