Sasaran Inflasi Jangka Panjang Ditetapkan 3%

Sasaran Inflasi Jangka Panjang Ditetapkan 3%

- detikFinance
Kamis, 19 Agu 2004 14:17 WIB
Jakarta - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sepakat menetapkan sasaran inflasi jangka panjang di level 3 persen. Namun sasaran inflasi yang diusulkan dalam bentuk Indeks Harga Konsumen (IHK) tersebut pada tahun 2005 ditetapkan sebesar 6 persen, kemudian turun menjadi 5,5 persen pada tahun 2006 dan 5 persen di tahun 2007.Dalam waktu dekat, kesepakatan tersebut akan diumumkan pemerintah dalam hal ini Departemen Keuangan. Diharapkan, sasaran tersebut tidak akan mengganggu perhitungan APBN."Pertimbangan utama sasaran inflasi jangka panjang yang rendah ini untuk memperoleh daya saing perekonomian dalam iklim perekonomian yang makin terbuka," kata Deputi Gubernur BI, Hartadi A. Sarwono, di sela-sela seminar mengenai "Arah Kebijakan Fiskal dan Moneter Tahun 2005" di gedung BI, Jakarta Pusat, Kamis (19/8/2004).Sasaran inflasi jangka panjang itu, lanjut dia, diharapkan bisa dicapai secara bertahap dengan mempertimbangkan adanya trade off dalam jangka pendek antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi, namun dengan tetap menunjukkan komitmen dalam proses disinflasi.Pencapaian sasaran jangka panjang ini, menurut Hartadi, sudah dikoordinasikan dengan pemerintah lewat nota kesepakatan antara Depkeu-BI yang diteken 1 Juli silam. Untuk jangka pendek, BI dalam menetapkan kebijakan moneter akan diarahkan untuk pengendalian tekanan inflasi yang semakin nyata.Kebijakan ini, sambung dia, perlu dilakukan untuk mencapai sasaran inflasi jangka menengah dan stabilitas makro ekonomi. Namun perumusan kebijakan moneter ini juga dilakukan dengan mempertimbangkan dampak kebijakan terhadap keberlangsungan proses pemulihan ekonomi."Tapi untuk lebih menunjukkan komitmennya dalam mengendalikan inflasi, BI akan memperjelas sinyal kebijakan moneter ke depan. Hal ini dilakukan lewat upaya penyerapan likuiditas yang lebih optimal, dengan memungkinkan kenaikan suku bunga secara terbatas seperti yang telah dilakukan belakangan ini," ujar mantan calon deputi gubernur senior BI ini.Selain itu, untuk mengerahkan ekspektasi inflasi, BI juga akan meningkatkan transparansi kebijakan. Terkait penyerapan likuiditas, dijelaskan Hartadi, sehjauh ini BI terus melakukannya, terutama lewat lelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dimana penyerapan dilakukan seoptimal mungkin yakni rata-rata 95 persen dari penawaran yang masuk."Kondisi ini menyebabkan mau tidak mau, suku bunga mengalami peningkatan sedikit. Tapi suku bunga ini ditentukan oleh pasar. Untuk tahun depan, saya melihatnya masih lebih baik dibanding tahun ini, dimana ada kecenderungan suku bunga akan turun," papar Hartadi.Penurunan suku bunga di tahun depan, dalam pandangan Hartadi, terjadi karena kemungkinan besar tekanan-tekanan eksternal akan berkurang. Sementara di dalam negeri, proses politik diperkirakan akan berjalan lancar."Di samping itu, peningkatan ekspor juga akan terjadi meski investasi kemungkinan masih tetap rendah. Tapi peningkatan ekspor ini diharapkan bisa menutup kesenjangan tersebut sehingga bisa memperbaiki prospek investasi," demikian Hartadi Sarwono. (ani/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads