Krisis yang terjadi di zona Eropa terutama di negara Yunani, Spanyol dan Italia ternyata sedikit sekali mempengaruhi stabilitas perekonomian di Indonesia. Kucuran dana talangan 500 miliar Euro kepada bank-bank yang terpuruk di Eropa dipandang sebagai suatu hal yang positif tetapi sifatnya sementara.
Indonesia sebagai negara yang tetap sehat dalam pertumbuhan ekonominya harus terus memperhatikan keadaan global ini untuk tetap menjaga agar pertumbuhan ekonomi tetap growth hingga akhir tahun sampai 6,5%.
"Asia masih growing ditengah keterpurukan yang terjadi di Euro Zone, kita lihat China, Malaysia dan Singapura serta Indonesia yang GDP nya besar," ungkap Head of Global Market HSBC Indonesia, Ali Setiawan saat ditemui wartawan di gedung WTC, Rabu (04/07/12).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebijakan yang diambil pemerintah untuk tidak menaikan harga BBM membuat inflasi kita tetap berada di angka 4,5% sedangkan jika pemerintah menaikan harga BBM maka HSBC di prediksi inflasi bisa meningkat di angka 6,5-7,5%.
Indonesia juga diminta untuk waspada karena 50% pasar saham kita dipegang oleh uang asing. 30% dari 50% atau sebanyak 220 Triliun diantaranya dipegang oleh uang Eropa dan Amerika. Sehingga BI untuk keadaan ini tidak akan menaikan suku bunga.
"Waspada penting karena pasar kita sifatnya Easy Rebound dan Easy Sail Out," Jelas Ali
Ali juga mengingatkan Indonesia agar terus memperhatikan kondisi perekonomian China. China dengan volume perdagangan yang terus bertumbuh, tetap memperkirakan peningkatan kuat bagi impor dan ekpor sebesar 5,1% dan 4,7% hingga tahun 2016.
"China ibarat sebuah virus, jika China sakit parah, maka virus tersebut akan menyebar keseluruh Asia termasuk Indonesia," pungkas Ali.
(dru/dnl)











































