Ekspor Juni tumbuh 11,3% dari setahun sebelumnya, lebih cepat dari perkiraan pasar yakni 9,9% meski sedikit mengendur dari kenaikan mengejutkan 15,3% di bulan Mei.
Dengan demikian China mencatat surplus perdagangan US$ 31,7 miliar (Rp 301,15 triliun) di bulan Juni, dibandingkan perkiraan US$ 21 miliar dan US$ 18,7 miliar di bulan Mei.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data Senin menunjukkan harga produksi dan konsumsi China melemah lebih banyak dari perkiraan, menunjukkan tanda-tanda anjloknya permintaan barang-barang dari ibukota manufaktur dunia tersebut. Sekaligus memungkinkan dirilisnya kebijakan-kebijakan baru untuk mendukung perlambatan ekonomi.
Melemahnya permintaan domestik jadi kabar buruk bagi China karena eksportir terbesar di dunia ini sudah bergelut dengan berkurangnya permintaan produk dari pelanggan terbesar mereka: Uni Eropa dan Amerika Serikat.
Saham Asia mengalami kenaikan dini setelah datar seharian, sementara saham futures AS sedikit mengalami kerugian, menyorot pembukaan yang melemah di Wall Street hari itu.
Pertumbuhan ekspor tahunan China melemah lebih dari 20% daripada yang terlihat pada 2010 ketika Eropa dilanda resesi dan pemulihan ekonomi AS tersendat-sendat.
Target pertumbuhan tahunan dari pemerintah baik untuk impor dan ekspor di 2012 adalah 10%, level yang disebut oleh Wakil Perdana Menteri Wang Qishan pekan lalu akan dicapai Beijing dengan penuh kesulitan. Sementara Menteri Perdagangan Chen Deming mengatakan, hal itu hanya akan terjadi jika keberuntungan memihak mereka.
Analis yang disurvey Reuters pekan lalu memperkirakan rata-rata pertumbuhan GDP tahunan China di triwulan kedua tahun ini menurun 7,6% dibanding 8,1% di triwulan pertama.
(ang/ang)











































