Follow detikFinance
Jumat, 20 Jul 2012 19:05 WIB

Anggito: Urus Uang Haji Lebih Berat Daripada Uang Negara

- detikFinance
Jakarta - Direktur Jenderal Haji dan Umroh Kementerian Agama Anggito Abimanyu mengaku lebih sulit mengurusi dana haji dibandingkan keuangan negara. Karena dia harus menjamin setiap rupiah yang tersimpan dalam dana haji bisa kembali sepenuhnya kepada para jamaah.

"Beratan haji, karena setiap rupiahnya itu harus kembali ke jamaah," ujar Anggito ketika ditemui di Gedung Mahkamah Agung, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (20/7/2012).

Untuk itu, Anggito berencana untuk mengganti skema penyimpanan dana haji dari Sukuk Dana Haji Indonesia (SDHI) menjadi berbentuk sukuk proyek.

"Nanti saya hanya mau ke SDHI kalau ada proyek. Selama ini kan hanya dititipkan saja ke DJPU. Sekarang saya bilang ke Dirjen Pengelolaan Utang, saya tidak mau uang kalau hanya titipan saja. Tapi ada nilai proyeknya, revenue generated," ungkapnya.

Dengan demikian, lanjut Anggito, makin besar nilai manfaat yang didapat dari dana haji yang tersimpan bertahun-tahun itu.

"Karena uang ini uang jamaah yang harus punya nilai manfaat. Nilai manfaat yang melebihi benchmark sekarang. Makanya kita mau cari proyek, kita taruh ke pemerintah yang ada nilai manfaatnya," jelasnya.

Langkah ini juga bertujuan menjaga tata kelola yang baik dalam pengelolaan dana haji. Atau dengan kata lain, dapat mengurangi penggunaan dana haji untuk kepentingan pribadi atau orang-orang tertentu.

"Pokoknya tata kelola dan nilai manfaat. Jadi saya ingin supaya sebesar-besarnya ada nilai manfaatnya. Lalu kita dapat menghemat yang dipakai untuk dana abadi umat. Jadi nanti seperti untuk PIP, saya mau bikin bisnis model juga supaya yang DAU itu bisa dimanfaatkan untuk investasi. Jadi tidak hanya manfaat bagi umat tapi revolving bagi ekonomi," tegasnya.

Saat ini, tambah Anggito, jumlah dana haji yang tersimpan di Kemenag sekitar Rp 44 triliun, Rp 35 triliun diantaranya berupa SDHI. Untuk pemberangkatan haji tahun 2012, terdapat dana sekitar Rp 19 triliun yang memiliki bunga sekitar Rp 1,4 triliun.

Jumlah besar tersebut yang diharapkan tidak mengendap begitu saja, tetapi bisa digunakan untuk pembangunan negara. "Besarnya penempatan itu tergantung strategi investasinya. Ini yang saya bicarakan dengan Kemenkeu dan perbankan. Saya bicara dengan Bank Syariah Mandiri supaya kita dapat revenue lebih tinggi sehingga manfaat untuk jamaah lebih besar," tegasnya.

Selain pemindahan ke sukuk proyek, Anggito berencana memindahkan penyimpanan dana haji ini ke bank syariah. Saat ini ada sekitar 20% dana masih tersimpan di perbankan. Jumlah inilah yang lambat laun akan dipindahkan ke perbankan syariah.

"Sekarang komposisi 80% buat ke sukuk, 20% ke perbankan. Saya akan cari keseimbangan yang pas juga, supaya ada kompetisi dana. Saya akan konsentrasikan ke syariah. Jadi lambat laun nanti akan dipindahkan ke syariah dari non syariah," ujarnya.

"Jadi saya punya alternatif. Kalau tidak bank syariah, deposito atau giro dan juga sukuk tapi yang berbasis proyek. Pada prinsipnya semua bisa, tapi yang aman dan ada nilai manfaatnya, sekarang itu baru yang aman saja tapi tidak ada nilai manfaatnya," tandasnya.




(nia/wep)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed