Tukiyem (56) warga dusun Gemahan Dusun Gemahan, Ringinharjo, Bantul tetap saja sibuk membuat ratusan bungkus tempe bersama suaminya Partijan (60).
Naiknya harga kedelai tidak membuat usaha yang ia rintis sejak 18 tahun silam terganggu. Pasalnya, perajin ini menggunakan Kacang Benguk (Mucuna prurien), biji buah tanaman serumpun kacang kapri dan kacang buncis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau tempe benguk lebih mudah menjualnya. Kan tidak banyak saingan seperti tempe kedelai," kata Tukiyem.
Berbeda dengan kacang kedelai, Biji Benguk memiliki ukuran kira-kira sebesar ibujari balita dengan bentuk sedikit lonjong dan pipih. Biji benguk berwarna abu-abu hingga kehitaman. Bentuk bijinya yang besar menjadikan proses pembuatan tempe benguk lebih lama di banding tempe kedelai.
Lamanya proses pembuatan tempe benguk menurut Tukiyem karena tanpa perebusan berulang, kulit ari biji Benguk tidak dapat terkelupas secara bersih. Selain itu, diperlukan proses perendaman dalam waktu lama untuk menghilangkan keasaman dan melunakkan biji benguk.
"Benguk kan harus di rebus hingga empat kali agar bersih. Jadi paling tidak enam hari baru jadi tempe siap konsumsi," kata Tukiyem sambil meremas-remas biji benguk.
Menurut Tukiyem meski saat digigit tidak selembut tempe kedelai, tapi citarasa tempe benguk tidak kalah. "Lebih enak kalau di masak bacem atau besengek (santan manis)," kata Tukiyem.
Dalam sehari, ibu tiga anak ini menghabiskan 30-40 kg untuk membuat sekitar 500 bungkus tempe benguk. Tukiyem yang menggunakan daun pisang sebagai pembugkus tempe buatannya, menjual seharga Rp 400 untuk ukuran kecil dan Rp 600 untuk ukuran besar (selebar telapak tangan).
Ia pun tak perlu repot ke pasar karena para pelanggan yang rata-rata pedagang akan datang ke rumahnya.
(hen/hen)










































