Ini Curhatan Perajin Tahu Tempe yang Tak Rela Mogok Produksi

Ini Curhatan Perajin Tahu Tempe yang Tak Rela Mogok Produksi

Rista Rama Dhany - detikFinance
Kamis, 26 Jul 2012 13:21 WIB
Ini Curhatan Perajin Tahu Tempe yang Tak Rela Mogok Produksi
Jakarta - Para perajin tahu-tempe di Mampang, DKI Jakarta kaget ketika mendapatkan surat dari Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Kopti) DKI Jakarta untuk meminta mogok produksi dari 25-27 Juli 2012. Perajin tahu tempe di Mampang, Jaksel terpaksa menuruti karena takut, mereka merasa hanya dijadikan alat kepentingan.

"Kami ini terpaksa ikuti permintaan mereka (Puskopti) karena takut kalau kita produksi nanti di-sweeping, tapi kami merasa hanya dijadikan alat untuk kepentingan suatu organisasi," kata Carido salah satu produsen tahu-tempe di Jl Mampang Prapatan, kepada detikFinance, Kamis (26/7/2012).

Dikatakannya, pada dasarnya perajin idak mempermasalahkan adanya kenaikan harga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak masalah kalau harganya naik, yang penting barangnya (kedelai) ada, dan saat ini stoknya cukup di pasar, kalau harga naik kita tinggal menyesuaikan saja, dan konsumen atau pelanggan kami mengerti kenapa tempe dan tahu naik harganya," ujarnya.

Menurut Carido reaksi terhadap kenaikan ini sangat berlebihan, produsen dipaksa untuk tidak boleh produksi dan kalau melanggar bisa disweeping.

"Kami kan produksi untuk isi perut keluarga kami, apalagi kita tidak produksi, para pekerja tidak dapat uang, apa mereka mau menanggung kerugiannya, tidak kan. Kalau pemeritnah yang larang mungkin saya bisa terima, tapi inikan organisasi, saya bukan anggota mereka juga kenapa mereka memaksa saya juga tidak boleh produksi," geram Carido sambil menunjukkan lima lembar surat permintaan penghentian produksi.

Bahkan Carido mensinyalir para perajin yang diminta untuk mogok produksi ini hanya dijadikan alat untuk kepentingan golongan organisasi tertentu.

"Ya kita berkaca pada kasus empat tahun lalu, kejadian melambungnya harga kedelai mendapat reaksi dengan demostrasi, nah waktu itu Menteri Perdagangan (Mari Elka Pangestu) sampai datang ke produsen tempe dan tahu dan mengelurkan peraturan pemberian subsidi bagi produsen sebesar Rp 100.000 per kwintal kedelai (Rp 1.000 per Kg), nah mungkin ada golongan yang ingin memanfaatkan ini kembali terjadi," ungkapnya.

Menurutnya dan rekan perajin tahu-tempe lainnya, tidak memandang subsidi tersebut sebagai jalan keluar. "Kita kalau dikasih sih mau-mau saja, tapi tidak terlalu pentinglah, kita sudah biasa naik turunnya harga kedelai," katanya.

"Apalagi kalaupun demo ini selesai, apakah harga kedelai turun? tidak juga kan, karena harga kedelai sepengetahuan saya sudah didasarkan mekanisme pasar, pemerintah mau nolong seperti apa biar harga kedelainya turun," tandasnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan, Kementerian Pertanian mengusulkan tidak memberikan subsidi kepada para pengusaha tahu dan tempe, menyusul melonjaknya harga kedelai saat ini. Subsidi kedelai dinilai tidak tepat karena tidak memberikan nilai tambah dan terbukti pada 2008 lalu tak efektif meredam harga.

"Kita mentoleransi kalau tahu tempe naik harganya. Tapi kalau disubsidi terus akan berat. Jadi antisipasinya bisa dengan mengurangi ukuran tempenya, atau tahunya, atau apapun," kata Rusman.

(rrd/hen)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads