"Ketidakpastian perkembangan ekonomi dan keuangan global dapat mempengaruhi perkembangan ekonomi dan pembangunan nasional kita, baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, perkembangan kondisi ekonomi global hari demi hari harus terus kita ikuti dan waspadai. Pemantauan secara intensif dan kewaspadaan kita perlukan, agar kita dapat mengambil langkah-langkah kebijakan antisipasi yang cepat, tepat dan terukur," kata SBY.
SBY menyampaikan hal tersebut dalam pidato penyampaian Nota Keuangan 2013 di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdullillah, pada tahun 2011 lalu di saat beberapa negara lain mengalami perlambatan atau bahkan pertumbuhan negatif kita masih dapat meraih pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 persen. Kinerja pertumbuhan ekonomi sebesar itu terutama karena ditopang oleh permintaan domestik yang tetap kuat," tegas SBY.
Kinerja ekonomi nasional yang baik itu, menurut SBY akan terus dipertahankan pada tahun 2012. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I mencapai 6,3 persen, dan pada triwulan II bahkan sedikit meningkat mencapai 6,4 persen.
"Ekspor memang melambat akhir-akhir ini, tetapi ternyata diimbangi oleh pengeluaran konsumsi dan investasi yang kuat. Daya beli masyarakat Indonesia, dengan kelompok kelas menengahnya yang semakin besar, terus meningkat, yang selanjutnya mendorong pertumbuhan konsumsi domestik," katanya.
Sementara itu, investasi juga terus meningkat sejalan dengan naiknya peringkat utang Indonesia menjadi investment grade. Dalam Semester I 2012, investasi tumbuh dua digit sebesar 11,2 persen.
"Kita perkirakan, pertumbuhan ekonomi tahun 2012, insya Allah dapat dipertahankan pada kisaran 6,3 persen hingga 6,5 persen," kata SBY.
(dru/dru)










































