Akhirnya, Neraca Perdagangan RI Surplus di Agustus 2012

Akhirnya, Neraca Perdagangan RI Surplus di Agustus 2012

- detikFinance
Senin, 01 Okt 2012 12:01 WIB
Akhirnya, Neraca Perdagangan RI Surplus di Agustus 2012
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Setelah 3 bulan berturut-turut defisit, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2012 mengalami surplus sebesar US$ 248,5 juta. Surplus perdagangan Januari-Agustus naik menjadi US$ 496,7 juta.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyebutkan, ekspor Indonesia di Agustus mencapai US$ 14,12 miliar atau turun 24,3% dibandingkan Agustus 2011.

"Untuk ekspor migas sebesar turun 2,3 persen, sementara ekspor non migas turun 14,49 persen. Ini karena penurunan permintaan akibat krisis Eropa," ujar Suryamin dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Senin (3/9/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Total nilai ekspor dari Januari hingga Agustus 2012 mencapai US$ 127,17 miliar atau turun 5,58%, dibanding periode yang sama tahun lalu. Ekspor terbesar adalah bahan bakar mineral US$ 17,83 miliar dan lemak dan minyak hewan nabati US$ 14,09 miliar.

Suryamin menyebutkan, pangsa ekspor terbesar dalam 8 bulan ini adalah China senilai US$ 13,37 miliar, Jepang US$ 12,57 miliar, dan AS US$ 9,9 miliar. Kemudian ekspor ke negara ASEAN sebesar US$ 21,35 miliar, dan Uni Eropa senilai US$ 12,09 miliar.

Sementara itu, impor Agustus 2012 mencapai US$ 13,87 miliar atau turun 8,02% dibanding Agustus 2011. Impor Indonesia turun 15,21% dibandingkan Juli 2012.

Nilai impor migas di Agustus 2012 mencapai US$ 3,31 miliar atau naik dari US$ 2,76 miliar di Juli 2012. Impor non migas mencpai US$ 10,56 miliar atau turun dari US$ 13,6 miliar di Juli 2012.

"Total impor Januari hingga Agustus 2012 mencapai 126,67 miliar atau naik 10,28 persen pada periode sama tahun lalu dengan impor non migas sebesar US$ 99,16 miliar atau naik 12,66 persen pada periode sama tahun lalu," ujarnya.

Impor terbesar, lanjut Suryamin, adalah mesin dan peralatan mekanik US$ 18,81 miliar, serta mesin dan peralatan listrik sebesar US$ 12,65 miliar.

Negara asal barang impor terbesar adalah China dengan nilai US$ 19,21 miliar, Jepang sebesar US$ 15,48 miliar, Thailand sebesar US$ 7,66 miliar.

"Total impor ketiga negara tersebut adalah 42,7 persen dari keseluruhan nilai impor Indonesia," jelasnya.

Sedangkan impor dari negara ASEAN mencapai US$ 21,36 miliar dengan pangsa pasar 21,54%, serta impor dari negara Uni Eropa sebesar US$ 9 miliar dengan pangsa pasar sebesar 9,08%.

Dengan realisasi perdagangan tersebut, Suryamin menyatakan pada Agustus 2012 neraca perdagangan Indonesia mulai kembali surplus US$ 248,5 juta, sehingga secara kumulatif terjadi surplus sebesar US$ 496,7 juta.

"Jadi ini angin segar karena selama 3 bulan terakhir neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit, kini sudah mulai surplus, meskipun memang ini masih angin sepoi-sepoi saja," tegasnya.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads