Djatun Khawatirkan Peningkatan Travel Warning

Djatun Khawatirkan Peningkatan Travel Warning

- detikFinance
Kamis, 09 Sep 2004 13:46 WIB
Jakarta - Akibat bom dahsyat di dekat Kedubes Australia, Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjara-jakti menegaskan, antisipasi utama yang harus dilakukan pemerintah adalah peningkatan pemberlakuan travel warning oleh sejumlah negara terhadap Indonesia. Hal itu mengingat terorisme yang terjadi di Indonesia memang menjadi hal yang diperhitungkan negara-negara lain."Memang akibat bom ini, perekonomian terganggu sebentar, biasanya di bursa efek saja. Tapi tentunya juga harus diantisipasi adanya travel warning. Jadi inilah yang harus kita bicarakan dengan berbagai negara darimana turis-turis kita berasal. Mereka harus kita berikan informasi yang baik," kata Djatun.Hal tersebut disampaikan Djatun dalam seminar mengenai investasi di kawasan timur Indonesia yang diselenggarakan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Hotel Hilton, Jakarta, Kamis (9/9/2004). Menurutnya, efek bom memang langsung berdampak terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEJ yang terkoreksi tajam. Namun dalam beberapa jam ke depan ia berharap kondisi tersebut bisa teratasi."Buat saya selama di kabinet, sudah mengalami kejadian bom Bali, bom Cengkareng (bandara-red), bom Marriott dan yang saat ini terjadi. Saya bukan mengatakan business as usual, tapi prosedurnya sudah ada di kami, jadi kami yakin bisa segera teratasi," papar mantan dekan Fakultas Ekonomi UI tersebut.Dalam pengamatan Djatun, bom di depan Kedubes Australia merupakan yang terbesar kedua setelah bom Bali. "Negara-negara lain beranggapan Indonesia sudah menjadi korban terorisme, tapi dari pihak kita sudah mengupayakan untuk memperkuat keamanan. Saya percaya, seperti kasus bom Bali dan bom Marriott, dengan cepat kita akan bisa ungkap siapa di belakang kasus ini," katanya yakin.Mengenai dampak ledakan bom, ia mengaku sejauh ini belum bisa mengungkapkan. Namun ia yakin laju pertumbuhan ekonomi akan tetap stabil. "Saya lihat dari laju perekonomian Indonesia pasca peristiwa-peristiwa itu, memang yang terparah terjadi waktu bom Bali. Tapi kalau saya perhatikan beberapa kejadian itu, tampaknya laju pertumbuhan akan cepat pulih kembali," demikian Dorodjatun Kuntjara-jakti. (ani/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads