"Survei Bank Dunia menyebutkan enterpreneur di Indonesia masih 1,65%, Malaysia 4%, Thailand 4,1%, dan Singapura 7,2%," ujar Wakil Presiden Boediono dalam Pembukaan Global Enterpreneurship Week di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (12/11/2012).
Menurut Boediono, ada beberapa kategori yang mampu menghambat pertumbuhan wirausaha di Indonesia. Pertama, masalah law and order atau ketertiban hukum dan aturan main yang jelas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, lanjut Boediono, kestabilan ekonomi makro. Hal ini sangat penting bagi para wirausaha untuk melakukan perhitungan bisnisnya.
"Kalau ekonomi makro seperti yoyo atau roller coster maka tidak bisa melakukan perhitungan. Hanya mereka yang spekulatif yang bisa melanjutkan usaha. Ini usaha pemerintah untuk menjaga kestabilan ekonomi makro. Walaupun dibilang konservatif, tapi memang diperlukan pada kondisi yang tidak pasti seperti saat ini (uncertainty)," jelasnya.
Kemudian ketiga adalah masalah infrastruktur yang dinilai sangat mempengaruhi biaya bisnis.
"Studi Bank Dunia menunjukkan investasi di luar perkotaan dipengaruhi ada tidaknya infrastruktur dasar. Ini mempengaruhi biaya bisnis," jelasnya.
Lalu keempat adalah regulasi baik nasional maupun daerah. Menurut Boediono, banyak regulasi yang harus dilihat supaya enterpreneurship tumbuh dengan baik.
Kelima, tambah Boediono, permasalahan yang berkaitan dengan perbankan, yaitu tersedianya layanan finansial bagi bisnis baik yang besar maupun yang mikro. Terakhir atau keenam adalah masalah tenaga kerja yang terlatih
"Masalah tenaga kerja ini biasanya menjadi komplain bagi industri baik sedang maupun besar," ungkapnya.
Untuk itu, Boediono menyarankan agar dibuat sebuah forum pemerintah dan swasta untuk menentukan langkah konkrit untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas wirausaha.
"Kita mensinergikan ini semua untuk menciptakan wirausaha yang tangguh," pungkasnya.
(nia/dnl)










































