Dari program penyediaan 20.000 sapi sejak awal tahun 2012, Dahlan mengatakan persoalan selama enam bulan pertama BUMN mengembangkan ternak sapi, justru terkendala memperoleh anakan atau bibit sapi.
"Hambatan utama daging bukan makanan ternak yang mahal tapi ternyata bibit, bagaimana mengatasi bibit ini. Itu yang belum ketemu," tutur Dahlan di Kantor Pusat PT PP di Pasar Rebo Jakarta, Selasa (27/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya akan bicara dengan universitas yang punya fakultas peternakan. Apakah BUMN harus terjun atau tidak dibidang pengadaan bibit ini," tambahnya.
Terkait kesulitan memperoleh bibit, Dahlan belum mau mengintruksikan BUMN seperti PTPN dan PT RNI yang saat terlibat mengembangkan ternak sapi untuk melakukan impor bibit sapi.
"Kalau bisa semangatnya jangan impor. Saya ketemu dengan perguruan tinggi. Ini perjalanan termahal selama menekuni bidang sapi ini," pungkasnya.
(feb/hen)











































