Seandainya ekonomi Belanda pada kuartal akhir tahun ini kembali mengalami kontraksi, maka Belanda mengalami resesi untuk ketiga kalinya dalam tiga tahun. Apa yang dikhawatirkan para ekonom tahun lalu mengenai kemungkinan double dip, justru yang terjadi Belanda malah menuju ke triple dip.
Kontraksi yang tak terduga itu mengakibatkan perkiraan-perkiraan ekonomi dalam kesepakatan koalisi pemerintah Kabinet Rutte II menjadi tertekan. Antara lain, pemasukan pajak akan berkurang dari perkiraan sebelumnya dan sebaliknya pengeluaran untuk tunjangan akan meningkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari data CBS, terlihat bahwa Belanda pada kuartal ketiga kurang memanfaatkan ekspor (-2,4% dibanding kuartal kedua). Penyebab malaise ekonomi Belanda juga dipengaruhi situasi domestik. Perusahaan-perusahaan mengurangi investasi (-3,1%) dan konsumen juga mengurangi belanja (-0,4%).
Menurut CBS, krisis di sektor perumahan dan properti sangat mempengaruhi. Penjualan mobil juga menurun.
Sementara itu angka pengangguran tercatat pada Oktober 2012 naik hingga 6,8% atau 536.000 orang angkatan kerja (melebihi ambang batas psikologis 5%). Angka pengangguran 6,8% itu berarti naik 0,2% dari bulan sebelumnya sebesar 6,6% atau 519.000 orang, demikian data CBS dan UWV.
Situasi ekonomi Belanda, pertumbuhan lemah di Prancis dan Jerman (0,2%) dan krisis di Eropa Selatan, membawa Zona Euro saat ini betul-betul memasuki resesi. Pada kuartal kedua ekonomi Zona Euro telah mengalami kontraksi 0,2%, dan pada kuartal ketiga 0,3%. (es/es)










































