Cerita Dahlan Iskan dan Mantan Gubernur DKI Sutiyoso Soal MRT

Cerita Dahlan Iskan dan Mantan Gubernur DKI Sutiyoso Soal MRT

Zulfi Suhendra - detikFinance
Minggu, 09 Des 2012 16:05 WIB
Cerita Dahlan Iskan dan Mantan Gubernur DKI Sutiyoso Soal MRT
Jakarta - Provinsi DKI Jakarta tengah merencanakan proyek Mass Rapid Transit (MRT) alias kereta bawah tanah. Telah banyak pembahasan yang dilakukan untuk proyek besar ini. Sebenarnya, proyek ini telah lama diimpikan Gubernur DKI Jakarta terdahulu, yaitu Sutiyoso.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan mengaku, dirinya pernah diajak Sutiyoso untuk meninjau beberapa proyek MRT yang telah ada di kota-kota besar di dunia.

"Saya pernah diajak Pak Sutiyoso ke Tokyo waktu saya masih wartawan. Pak Sutiyoso mengajak meninjau beberapa MRT, di Ghuangzhou, di Tokyo di Singapura. Itu kata Pak Sutiyoso, nggak tahu Pak Jokowi," ungkap Dahlan seperti dikutip Minggu (9/12/12).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengungkapkan, pada saat itu Gubernur DKI Jakarta tersebut mengaku mampu untuk membangun MRT tanpa pemerintah pusat, dari segi finansial maupun pengerjaan dengan melibatkan beberapa kontraktor.

"Udah lah pemerintah pusat ini nggak usah ikut-ikut, serahkan ke DKI, DKI pasti mampu membangun. Mampu atas dasar finansial dan pengerjaan," ungkap Dahlan menirukan ucapan Sutiyoso waktu itu.

Dahlan melanjutkan, waktu itu Sutiyoso mengaku agak sedikit malu karena baru kota Jakarta saja yang belum memiliki MRT, sementara masyarakat di kota besar lain sudah dapat menikmati moda transportasi ini.

"Saya sebagai Gubernur malu kalau ketemu Gubernur kota besar lain itu, tinggal Jakarta tok yang nggak punya MRT, saya pengen bangun 2 km aja yang penting Jakarta juga punya," ungkap Dahlan masih menirukan.

Dihimpun dari berbagai sumber, selama ini payung hukum soal proyek MRT antaralain Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pendirian PT MRT Jakarta dan Perda Nomor 4 Tahun 2008 tentang Penyertaan Modal ke PT MRT Jakarta. Dalam aturan itu operator MRT adalah PT MRT Jakarta yang berfungsi sebagai pihak yang membangun, mengoperasikan, dan memelihara MRT.

Selain itu ada Perda No.4 Tahun 2008 mengatur penggunaan permodalan yang dipinjamkan JICA, yaitu menerima setoran modal dari Pemprov DKI sebesar 58% dari total pinjaman dari JICA, dan pinjaman pemerintah pusat 42% dari total pinjaman yang diteruskan ke Pemprov DKI lalu oleh Pemprov DKI ke PT MRT.

Total dana yang dibutuhkan untuk proyek MRT tahap I sebesar Rp 15 triliun. Dana pinjaman itu harus dikembalikan dengan bunga 0,2% dan 0,4% dengan jangka waktu pengembalian 30 tahun plus 10 tahun.

Jaringan MRT Jakarta ada dua, antara lain koridor satu Lebak Bulus hingga Kampung Bandan. Koridor dua dengan jalur Timur ke Barat, mulai dari Balaraja hingga Cikarang.

Proyek MRT tahap I antara lain Lebak Bulus-Bundaran HI diantaranya sebanyak tujuh stasiun berada di permukaan tanah yakni Lebakbulus, Fatmawati, Cipete Raya, H Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Sisanya, enam stasiun di bawah tanah atau subway terletak di Masjid Al-Azhar, Istora Senayan, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran HI.

(zlf/dru)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads