''Sepanjang 2012, operasional perusahaan tidak ada keuntungan. Pada 2013, kondisinya juga akan sama. Perusahaan tidak akan untung,'' kata Rachmat Makassau, General Manajer Social Responsibility and Gomerment Relation NNT saat berbicara dalam Lokakarya Media tentang pertambangan di Sumbawa Barat, Rabu (19/12/2012).
Kendati tak membukukan keuntungan, Rachmat memastikan NNT tidak mengalami krisis keuangan. Pada 2011, NNT mendapat pinjaman dari sindikasi perbankkan sebesar US$ 600 juta, untuk menalangi operasional perusahaan 2012 dan 2013.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain akibat krisis yang melanda industri pertambangan dunia, tiadanya keuntungan PTNNT juga kata dia akibat pengupasan lapisan permukaan pada cebakan tambang Batu Hijau di Sumbawa Barat yang tertunda. Harusnya pengupasan sudah dilakukan 2007, namun tertunda empat tahun.
Penundaan disebabkan karena Kementrian Kehutanan tidak langsung memberi izin pinjam pakai kawasan hutan untuk menampung material pengupasan.
''Kalau tidak tertunda, maka tahun 2012 dan 2013 kita bisa menambang dan memproses bijih tambang dengan kualitas bagus,'' kata Rachmat.
Rentetan hal itu menyebabkan sepanjang 2012 hingga 2013, NNT hanya memproses bebatuan stockpile dengan kadar mineral rendah.
''Ongkos produksinya jauh lebih mahal dari hasil yang diperoleh,'' kata Rachmat.
Karena tak untung, maka NNT tidak akan membagi dividen pada pemegang saham 2012 dan 2013, termasuk pada pemerintah daerah yang menguasai 24% saham PTNNT bersama mitranya Bakrie Group.
''Dividen itu akan ditentukan dalam RUPS. Tapi apa yang mau dibagi, kalau tidak ada keuntungan perusahaan,'' kata Rachmat.
Keuangan perusahaan kata dia akan mulai stabil pada 2014, karena tahun itu produksi sudah mulai membaik.
(ang/ang)











































