Ini harus dilakukan agar persoalan sosial dan ekonomi pasca relokasi pedagang bisa diatasi.
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menjelaskan, KAI sebagai operator kereta memiliki tugas berat melakukan revitalisasi stasiun dengan menggusur para pedagang atau kios di dalam dan sekitar stasiun guna memberikan pelayanan prima kepada penumpang KRL dan mengejar target 1,2 juta penumpang per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, langkah KAI merevitalisasi stasiun berupa perluasan peron dan parkir adalah hal yang tepat. Area dalam stasiun merupakan lokasi steril dari aktivitas pedagang yang bisa mengganggu ruang gerak dan kenyamanan penumpang KRL Commuter.
"Menurut aturan, peron hanya untuk aktivitas gerak penumpang, tak boleh ada aktivitas lain yang mengganggu mobilitas penumpang. Aktivitas bisnis haris dilakukan di luar peron," tambahnya.
"Jika stasiun tak memiliki lahan yang luas, maka diutamakan bagi ruang gerak penumpang. Jika mau ada aktivitas bisnis, sifatnya self service seperti peron stasiun kereta di Belanda," tuturnya.
Sebelumnya, Kepala Humas KAI Sugeng Priyono punya alasan khusus mentertibkan kios-kios pedagang pada area stasiun di Jabodetabek yang sedang berlangsung. Ia menjelaskan, KAI mempunyai target bisa mengakut 1,2 juta penumpang per hari untuk KRL Commuter Line Jabodetabek.
Untuk mencapai target itu, KAI pun melakukan upaya pengembangan dan peningkatan kualitas layanan KRL Commuter Line Jabodetabek dan revitalisasi stasiun melalui penertiban kios-kios di dalam dan lahan sekitar stasiun milik KAI.
"Penertiban stasiun Jabodetabek untuk memberikan ruang publik penumpang yang besar. 5 tahun kedepan bisa angkut 1,2 juta sekarang baru 400 sampai 500 ribu (Penumpang) per hari," tutur Sugeng.
(hen/dnl)











































