Kenapa Durian Impor Sulit Hilang? Ini Jawabannya

Kenapa Durian Impor Sulit Hilang? Ini Jawabannya

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Selasa, 05 Feb 2013 18:17 WIB
Kenapa Durian Impor Sulit Hilang? Ini Jawabannya
Foto: Dewi-detikFinance
Jakarta - Pemerintah telah menerapkan larangan sementara impor 13 produk hortikultura (buah, sayur, dan bunga) termasuk durian mulai Januari-Juni 2013. Meski begitu durian impor yang dilarang masih ada di pasaran, kenapa?

Hari ini di supermarket kawasan Jakarta, detikFinance melihat durian Monthong asal Thailand mulai menghilang, namun digantikan oleh durian Bibit asal Malaysia.

Wakil Sekjen Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Satria Hamid mengatakan, masih banyaknya buah-buahan impor termasuk durian adalah karena produksi buah di dalam negeri tidak mencukupi permintaan yang tinggi di pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apalagi menurut Satria, produk impor termasuk buah dianggap sebagian masyarakat memiliki kualitas lebih super dibandingkan produk dalam negeri. Untuk itu, seharusnya pemerintah perlu membenahi sektor hulu alias sisi produksi buah-buahan sehingga ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya, bukannya malah memperketat sektor hilirnya yaitu pasar.

"Jadi begini, sebenarnya yang kita desak ke pemerintah itu pembenahan di hulunya, tidak instan di hilirnya. Oke dibatasi, kita dukung, tapi perlu pembenahan di hulunya seperti dari petani untuk meningkatkan kualitas produknya," kata Satria usai acara Sharing Session Program Capacity Building Carrefour Bagi UKM di Hotel iBis Tamarin, Jakarta, Selasa (5/2/2013).

Satria mencontohkan durian, menurutnya, petani durian hanya mampu memproduksi durian 50 kg per hari (25-50 buah), sementara kebutuhan untuk 1 peritel atau supermarket/swalayan saja sekitar 3-4 ton durian per hari. Ini artinya, pasokan dalam negeri tidak mencukupi permintaan yang ada.

"Ternyata setelah kita cek di sentra-sentra durian seperti durian Medan, durian Petruk, itu ternyata mereka hanya mampu produksi 50 kg per hari itu hanya 25-50 biji. Sedangkan kita peritel, 1 ritel saja butuh 3-4 ton durian sehari. Nah pemerintah bisa nggak melihat sisi gap-nya ini," ujarnya.

Untuk itu, Satria menambahkan, perlu adanya koreksi soal aturan pemerintah terkait larangan sementara 13 produk hortikultura tersebut agar terjadi keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan di masyarakat.

"Ini perlu koreksi agar aturannya equilibrium (seimbang)," kata Satria.

Berikut daftar harga buah dan sayur impor dan harganya (per 100 gram) yang banyak beredar di supermarket:

  • Durian bibit Malaysia: Rp 3.130
  • Jeruk Keprok Ponkam: Rp 2650
  • Anggur Red Globe A: Rp 7.280
  • Apel Fuji Wang San: Rp 5.250
  • Jeruk Shantang Madu: Rp 5.090
  • Apel USA: Rp 3.250
  • Apel Granny Smith: Rp 4.990
  • Apel USA merah kecil: Rp 3.337
  • Apel USA merah besar: Rp 3.250
  • Apel Fuji RRT Wang San: Rp 4.500
  • Pir Singo: Rp 1.990
  • Pir Golden: Rp 3.150
  • Pir Xiang Lie: Rp 3.854
  • Pir Khung Lie: Rp 2.530
  • Jeruk Navel: Rp 3.337
  • Jeruk Baby Ponkam: Rp 2.690
  • Melon Sky Rocket: Rp 1.440
  • Melon California: Rp 1.880
  • Timun Jepang: Rp 1.900
  • Bawang putih Honan: Rp 29.370 per paket
Sementara itu, berikut daftar 13 nama buah dan sayur yang dilarang impor sementara per Januari-Juni 2013 dengan skema pembatasan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH):

  1. Kentang
  2. Kubis
  3. Wortel
  4. Cabai
  5. Nanas
  6. Melon
  7. Pisang
  8. Mangga
  9. Pepaya
  10. Durian
  11. Krisan
  12. Anggrek
  13. Heliconia
(dnl/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads