Mei-Agustus, Indeks Kepercayaan Eksportir & Importir Naik

Mei-Agustus, Indeks Kepercayaan Eksportir & Importir Naik

- detikFinance
Kamis, 07 Okt 2004 14:24 WIB
Jakarta - Indeks kepercayaan eksportir dan importir sepanjang Mei sampai Agustus mengalami peningkatan cukup signifikan setidaknya hal ini ditunjukan dari keyakinan sekitar 52 persen eksportir akan adanya peningkatan ekspor dibanding 11 persen yang melihat kecenderungan penurunan ekspor.Sementara sebanyak 38 persen importir yakin akan terjadi peningkatan impor sementara 9 persen percaya akan terjadi penurunan impor. Demikian hasil survei yang dilakukan oleh CastleAsia bersama DHL terhadap lebih dari 100 eksportir dan importir nasional.Survei itu dilakukan untuk menggambarkan tingkat kepercayaan perdagangan di Indonesia secara menyeluruh sepanjang Mei-Agustus 2004. Peningkatan ekspektasi ekportir dan importir ini dipengaruhi oleh membaiknya perekonomian global serta stabilitas politik yang relatif terjaga selama masa kampanye."Dengan berakhirnya pemilu untuk memilih presiden serta wakilnya serta adanya prediksi yang positif terhadap kestabilan politik membuat kami optimis akan prospek meningkatnya level perdagangan Indonesia baik secara regional maupun internasional," kata Senior Technical Advisor PT Birotika Semesta/DHL Express Alan Cassels dalam jumpa pers di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (7/10/2004).Dijelaskan Alan, tingkat kepercayaan berdasarkan nilai rata-rata semua negara untuk eksportir meningkat dari 29,3 persen menjadi 30,3 persen dibandingkan dengan survei yang pertama pada tahun 2004. Sedangkan untuk importir terjadi penurunan dari 23,1 persen menjadi 19,6 persen untuk periode sama.Ekspektasi eksportir paling tertinggi tertuju pada kawasan Asia Tenggara di luar Singapura sebesar 53,7 persen diikuti oleh Australia dan Cina sebesar 46,4 persen dan 45,8 persen. Sementara itu harapan paling rendah tertuju pada Korea sebesar 4,8 persen. Ekpektasi importir paling tinggi tertuju pada Jepang sebesar 44,4 persen diikuti kawasan Asia Tenggara di luar Singapura dan Cina sebesar 43,8 persen dan harapan paling rendah tertuju pada kawasan Amerika latin sebesar 11,1 persen.Menurut Alan, transaksi ekspor dan impor di Indonesia tercatat lebih simpel dibandingkan negara di kawasan Asia Tenggara lainnya. Dijelaskan dari survei kedua yang dikeluarkan pada Oktober 2004 ini kepercayaan tertinggi ditunjukan kepada eksportir yang bergerak di bidang Migas diikuti manufaktur. Demikian juga dengan kepercayaan importir di bidang migas, besi dan baja. Survei sendiri meliputi 7 bidang usaha yang berbeda baik untuk eksportir maupun importir.Berdasarkan temuan survei, tercatat dampak harga bahan baku pada ekspektasi perdagangan jauh menurun baik untuk eksportir yakni 29 persen dibandingkan 35 persen dan importir sebesar 26 persen dibandingkan 30 pernsen. Sedangkan dampak biaya kredit pada ekspektasi perdagangan jauh meningkat untuk eksportir yakni 10 persen banding 5 persen dan importir 11 persen banding 7 persen. Selain itu 52 persen eksportir dan 38 persen importir memperkirakan adanya peningkatan pesanan. Sementara 11 persen eksportir dan 19 persen importir memperkirakan adanya penurunan pesanan.Dijelaskan Alan, sejauh ini peningkatan kepercayaan ini lebih banyak ditunjukan oleh perusahaan-perusahaan yang bekerja di bidang UKM dibandingkan perusahan-perusahaan besar. Hal ini dikarenakan bisnis UKM lebih fleksibel dan tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan harga bahn baku dan cost of fund karena biasanya industri ini lebih banyak menggunakan bahan baku dari dalam negeri.Sementara itu ahli ekonomi dari CastleAsia Peter Duncan menjelaskan perdagangan luar negeri Indonesia lebih banyak didorong untuk direstrukturisasi oleh tekanan tren global berkaitan dengan biaya tenaga kerja dan bahan baku yang merupakan faktor utama yang mempengaruhi kinerja perdagangan. (san/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads