Goldman Sachs: Harga Emas Bakal Terus Turun

Goldman Sachs: Harga Emas Bakal Terus Turun

Herdaru Purnomo - detikFinance
Kamis, 11 Apr 2013 09:13 WIB
Goldman Sachs: Harga Emas Bakal Terus Turun
Jakarta - Investment Banking asal AS, Goldman Sachs Group Inc memprediksikan harga emas dunia akan bergerak turun setelah terus naik selama 12 tahun belakangan. Goldman memangkas target prediksi harga emas dalam tiga bulan kedepan dari US$ 1.615 per ounce menjadi US$ 1.530 per ounce.

Dikutip dari Business Week, Kamis (11/4/2013) pada akhir tahun ini, Goldman menetapkan prediksi harga emas di level US$ 1.450 per ounce. Bahkan, pada akhir 2014 perusahaan ini memprediksi harga emas bisa turun hingga mencapai US$ 1.270 per ounce.

"Emas bakal turun 5,8% tahun ini karena spekulasi dari The Fed (bank sentral AS) yang menunda pemberian stimulus untuk pemulihan ekonomi," ungkap analis Goldman Sachs Group Inc, Damien Courvalin dan Jeffry Currie dalam laporannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harga emas kemarin saja sudah terlihat melemah turun 1,75% di US$ 1.558,90 per ounce.

Harga emas sempat diperdagangkan anjlok mencapai titik terendah sejak Juni tahun lalu. Harga emas berjangka dan Emas spot masing-masing diperdagangkan lebih rendah meski data AS menunjukkan adanya perlambatan dalam penambahan jumlah lapangan kerja pada sektor swasta.

Harga emas batangan di Logam Mulia milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) hari ini juga mengalami penurunan yang cukup dalam.

Dikutip dari situs Logam Mulia, Kamis (11/4/2013), harga emas Antam 1 gramnya turun Rp 4.000 menjadi Rp 544.000.

Investor keuangan dan salah satu orang terkaya di dunia yaitu George Soros menyatakan emas tak lagi menjadi alat investasi aman (safe haven), karena harganya yang terus runtuh.

"Emas tidak lagi menjadi investasi aman (safe haven), terbukti dia tidak aman lagi. Ini karena kekecewaan banyak orang yang memegang emas. Namun saat ini banyak bank-bank sentral yang terus membeli emas, jadi saya berharap harga emas tidak terus jatuh. Emas saat ini sangat volatile hari ke hari, tidak lagi investasi jangka panjang," tutur Soros seperti dikutip dari Business Insider, Rabu (10/42013),

(dru/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads