Dubes: Saatnya UE Melihat RI Sebagai Mitra Penting

Laporan dari Brussel

Dubes: Saatnya UE Melihat RI Sebagai Mitra Penting

Eddi Santosa - detikFinance
Kamis, 20 Jun 2013 18:29 WIB
Dubes: Saatnya UE Melihat RI Sebagai Mitra Penting
Brussel -

Indonesia itu besar, tapi kadang-kadang masih salah dipersepsi. Bagi UE, Indonesia sangat penting. Tak satu pun mitra strategis UE di Asia Tenggara dan di mana pun di dunia dapat menawarkan seperti Indonesia punya.

Demikian Duta Besar RI untuk Uni Eropa, Kerajaan Belgia dan Keharyapatihan Luksemburg Arif Havas dalam sambutan pembukaan high-level conference bertema Indonesia Matters: The Role and Ambitions of a Rising Power di Salvoy Library, Brussel, Selasa (18/6/2013).

Konferensi dimaksudkan untuk lebih meningkatkan pemahaman di UE betapa Indonesia adalah kekuatan baru yang sedang bangkit, mitra UE yang strategis. Indonesia bukan obyek, melainkan aktor penting di kawasan dan juga dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menyitir hasil suvei acak di Brussel baru-baru ini, Dubes menyampaikan bahwa Indonesia sudah dikenal luas. Ketika nama Indonesia disebut, terlintas dalam pikiran responden pantai-pantai yang indah, banyak pulau, nasi goreng lezat, sumpek, tsunami, terorisme dan blogger fashion hijab.

Tapi dari tanggapan-tanggapan responden tersebut ada kesamaan menyolok yaitu Indonesia diasosiasikan dengan tempat untuk dikunjungi, negara yang perlu dibantu, masalah yang harus diselesaikan. Dengan kata lain Indonesia dipandang sebagai obyek.

Padahal fakta-fakta mengenai Indonesia jauh berbeda dari persepsi tersebut.

"Indonesia lebih dari itu. Indonesia adalah negara dengan 245 juta penduduk, dengan populasi muslim terbesar di dunia, juga negara demokrasi terbesar ketiga dengan pertumbuhan ekonomi lebih dari 6%," jelas Dubes.

Menurut Dubes, Indonesia juga dapat membuktikan sebaliknya bahwa demokrasi tidak bisa menghasilkan pertumbuhan dan bahwa demokrasi tidak bisa berdampingan dengan Islam.

"Indonesia mengatasi banyak hal yang muskil itu. Indonesia adalah negara mission impossible," cetus Dubes disambut antusiasme audiens.

Lanjut Dubes, Indonesia berpengaruh besar sebagai pelaku kebijakan luar negeri aktif, baik di kawasan maupun global, sejak kemerdekaannya. Antara lain Indonesia aktif dalam berbagai operasi pemeliharaan perdamaian PBB di Afrika dan Timur Tengah, selalu berpemikiran terbuka dan aktif terlibat dengan masyarakat internasional.

"Indonesia bersama Malaysia dan Singapura juga aktif menjaga keamanan di Selat Malaka yang menjamin lalulintas pelayaran dan perdagangan internasional," imbuh Dubes.

Indonesia sebagaimana UE juga sangat beragam, dengan sedemikian banyak kebudayaan, bahasa, dan agama yang berbeda-beda di antara warganya. Indonesia memiliki kesamaan infrastruktur demokrasi seperti UE, juga kesamaan nilai-nilai dalam hal meyakini kawasan yang kredibel, damai dan sejahtera.

Dubes menekankan bahwa Indonesia penting bagi Eropa dalam konteks tantangan-tantangan radikalisasi warganya saat ini. Indonesia berpengalaman luas dalam debat Islam politik serta memberikan tanggapan naratif melawan radikalisasi dengan menggunakan teologi.

"Mengatasi radikalisasi itu dengan teologi adalah salah satu karakter penting cara Indonesia untuk menjaga keberagaman. Ini merupakan elemen penting bagi UE, sebab tak satu pun mitra strategis UE di Asia Tenggara dan di mana pun di dunia dapat memberikan seperti Indonesia punya," papar Dubes.

Gambaran-gambaran besar Indonesia itu kadang-kadang tidak muncul dalam diskusi-diskusi mengenai Indonesia

Contohnya, Indonesia di Brussel ini dianggap proteksionistis, padahal Indonesia hanya punya sedikit perbedaan pandangan dengan UE di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), sementara jumlah perselisihan antara UE dengan negara-negara mitra strategisnya bahkan jauh lebih banyak.

Indonesia juga disinyalir memiliki pandangan nasionalistis dalam kebijakan perdagangannya, namun UE baru-baru ini bisa menjual kepada swasta Indonesia 234 pesawat Airbus bernilai US$ 24 miliar dan ribuan lapangan kerja. Nilai ini setara dengan lebih dari satu dasawarsa ekspor sawit Indonesia ke UE yang baru saja dihukum dengan tarif anti-dumping.

"Bagaimana mungkin kebijakan perdagangan Indonesia dinilai nasionalistis, manakala mayoritas pemegang saham dua perusahaan raksasa telekomunikasi di Indonesia juga dimiliki oleh Singapura dan Qatar?," ujar Dubes.

Diplomat senior Kemlu RI ini mengajak audiens untuk melihat gambaran besar Indonesia dengan lebih jernih dan betapa sesungguhnya Indonesia adalah mitra yang sangat strategis.

"Pada 2004 Indonesia mempunyai 2 juta kelas menengah, kini 74 juta dan pada 2020 diprediksi akan menjadi 141 juta. Ini lompatan tertinggi di mana pun di dunia, di luar Cina dan India, dengan lebih dari 8 juta kelas menengah baru per tahun. Ini juga lebih banyak daripada negara-negara mitra strategis UE lainnya," tegas Dubes.

Mengutip data Boston Consulting Group (BCG), Dubes menambahkan bahwa kelas menengah Indonesia adalah satu satu yang paling optimistis di dunia. Lebih dari 90% orang Indonesia merasa aman dalam hal finansial, sementara penduduk India 75% dan AS 54%.

"Indonesia mempunyai kelas menengah yang sehat, bahagia dan terus tumbuh. Dan semua ini berlangsung dalam ekonomi di mana 70% dari GDP adalah konsumsi domestik dan pertumbuhan rata-rata 6% per tahun di tengah kelesuan global," imbuh Dubes.

"Ini adalah gambaran besar Indonesia yang perlu anda lihat. Jika anda tidak mau, orang lain sudah antre menunggu," tandas Dubes.

Hadir lebih dari 300 partisipan penting dari kalangan pengambil kebijakan Uni Eropa, para Dirjen Kemlu Belgia, para Duta Besar dan korps diplomat asing, kalangan perusahaan besar, think tank, mahasiswa dan media.

(es/es)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads