Tim Ekonomi Perlu Segera Ciptakan Sinyal Positif ke Pasar
Kamis, 21 Okt 2004 11:26 WIB
Jakarta - Bersamaan dengan pelantikan kabinet, kondisi pasar uang dan pasar modal justru terkoreksi. Oleh karenanya tim ekonomi SBY harus segera memberikan sinyal positif ke pasar agar kepercayaan kembali pulih."Nampakya memang respon pasar atas nama-nama menteri ekonomi kurang positif. Oleh karenanya tim ekonomi SBY harus secepatnya bersidang dan mengelurakan kebijakan apa yang akan diambil supaya dapat memberikan sinyal positif ke pasar uang dan modal," kata pengamat pasar uang dan pasar modal Farial Anwar kepada detikcom, Kamis (21/10/2004).Menurut Farial, sejumlah nama menteri dinilai kurang dikenal pasar atau tidak market friendly semisal menteri perindustrian Andung Nitimihardja, Menkeu Jusuf Anwar dan lainnya. "Kalau Menko Perekonomian Aburizal Bakrie memang sudah dikenal pasar, tapi dulu dia kan juga dikenal cukup memiliki masalah," ungkap Farial.Pada pukul 11.20 WIB nilai tukar rupiah terpantau dikisaran 9.100 per US$ 1 atau melemah 15 poin dibandingkan penutupan kemarin yang berada dikisaran Rp 9.085 per US$ 1. Sedangkan indeks harga saham gabungan (IHSG) juga terkoreksi 6,228 poin."Ya mudah-mudahan hal ini tidak berlangsung lama. Oleh karenanya segeralah tim ekonomi mengeluarkan kebijakan dan pemikirannya sehingga memberikan persepsi yang positif biar pasar bisa tenang. Kan pasar bergerak atas dasar persepsi," ungkapnya.Diakui oleh Farial Anwar, menteri ekonomi saat ini menghadapi sejumlah masalah besar terutama tekanan inflasi dan kemungkinan membengkaknya defisit. "Biasanya menjelang lebaran, natal dan tahun baru tekanan inflasi semakin besar. Belum lagi harga minyak dunia yang terus naik, itu bisa mempengaruhi defisit anggaran," imbuh Farial.Farial lantas menambahkan bahwa sebenarnya semua lapisan masyarakat sangat menaruh harapan kepada kabinet baru untuk bisa mengubah keadaan dan mampu menggerakan ekonomi supaya tingkat pengangguran dapat berkurang. "Tapi yang perlu diingat, janganlah terlalu optimis karena biasanya antara harapan dengan realita itu sering tidak sama," kata Farial menutup perbincangan.
(san/)











































