Sejak duduk menjadi bos Merpati Kamis minggu lalu, Asep mengakui masalah di Merpati sangat berat. Namun dirinya optimistis masalah di Merpati akan selesai secara bertahap, termasuk penyelesaian utang Rp 6,5 triliun.
"Harus mampu dan langkah-langkah kita cukup terarah dan jelas. Risiko tetap ada yaitu bisa berhasil atau gagal. Apakah ada beban target? Tidak disebutkan tetapi kita memiliki. Kita mempunyai program 0-6 bulan pertama dan 6-12 bulan ke depan. Masalah besarnya Merpati menghadang. Ke depan kita akan revisi RKAP-nya. Jadi memang kertas kerjanya banyak dan berat. Tetapi kuncinya fokus. Kita sibuk dengan pekerjaan kita untuk mencapai target," jelas Asep.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum menjadi Dirut Merpati, Asep berprofesi sebagai konsultan penerbangan di salah satu maskapai penerbangan. Asep juga pernah menjadi Direktur Operasional di Merpati pada 2010 lalu. Pada
Pada kesempatan itu, Asep mengatakn proses penunjukan dirinya sebagai Dirut Merpati dilalui dengan sangat sederhana dan biasa. "Proses penunjukan saya sebagai Dirut Merpati biasa saja, yang penting komprehensif dan bekerjasama untuk melakukan restrukturisasi Merpati," imbuhnya.
(wij/dnl)











































