“Jadi bingung saya mau pilih yang mana, makin ke mari harga televisi LED makin murah, pilihannya pun banyak,” kata Ruby yang mengajar bahasa Indonesia di salah satu SMA swasta di Jakarta Barat ini, pada Senin lalu.
Pria 32 tahun ini kemudian mendekati seorang pramuniaga. “Bagusan mana, mas, TV Korea atau Jepang?” katanya. Sejurus kemudian si pramuniaga menjelaskan tentang produk televisi buatan Korea dan Jepang yang ada di sana, beserta keunggulan dan kekurangannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasar televisi domestik memang sedang dikuasai produk-produk televisi buatan Korea Selatan, yaitu Samsung dan LG. Malah bisa dikatakan, kedua vendor ini sedang 'berperang' hebat di sini.
Menurut lembaga riset GfK, LG memimpin pasar televisi jenis Liquid Crystal Display (LCD) di Indonesia, per April 2013. Pangsa pasar LG adalah 30,2 persen. Sedangkan peringkat kedua diduduki Samsung dengan pangsa pasar 18,6 persen.
“Sekarang Korea memang sedang booming, tidak hanya di Indonesia tetapi sudah menguasai dunia. Indonesia tidak lepas dari tren internasional jadi kalau secara global Korea sedang menguasai maka pasti masuk juga ke Indonesia,” kata Rudyanto, Ketua Electronic Marketers Club, pada awal pekan ini.
Lembaga riset Futuresource Consulting mendapati, bisnis TV memang menanjak naik di pasar berkembang, seperti Indonesia. Tahun ini diperkirakan penjualan TV di pasar berkembang akan naik sampai 6 persen dan produk Korea 'berpesta' di dalamnya.
Di pasar global untuk TV LCD, Samsung masih menjadi jawara dengan pangsa pasar lebih dari 25 persen. Begitu juga di segmen Smart TV, yaitu televisi pintar yang sudah ditanamkan dengan berbagai aplikasi, Samsung juga meraja dengan pangsa 26 persen.
Rudyanto menilai, keberhasilan produk-produk Korea Selatan tidak lepas dari upaya keras selama bertahun-tahun. “Kualitas maupun inovasi produk Korea sangat memuaskan. Mereka juga cukup lama membangun image branding dan sekarang memetik hasilnya,” tuturnya.
Bagaimana dengan produk Jepang? Ternyata mereka masih bisa unjuk gigi di pasar Indonesia. Di kelas LCD, Sharp memperoleh pangsa pasar 17,2 persen. Kemudian diikuti Toshiba (13,5 persen) dan Sony (5,2 persen). Merk Jepang lain seperti Panasonic dan Sanyo hanya memiliki pangsa pasar kurang dari tiga persen.
Meski begitu, persaingan di pasar itu masih dikategorikan ketat. Keuntungan dari 'perang' itu, kata Rudyanto, dinikmati oleh konsumen lantaran harga televisi akhir-akhir ini semakin bersaing. Harga, kata dia, kadang-kadang menjadi penentu preferensi konsumen dalam memilih televisi.
Jelas, bagi konsumen yang termasuk entry-level alias pemula, harga menjadi panglima. Namun, memang ada konsumen yang cenderung setia pada merek. Begitulah cara produk-produk buatan Jepang bisa bertahan terus di tengah gempuran produk Korea Selatan. Tapi kalau semakin banyak orang seperti Rudy, jadi alarm juga bagi vendor-vendor Jepang.
(DES/DES)











































