Padahal, pemerintah baru saja mengubah asumsi makro dari APBN 2013 menjadi APBN Perubahan (APBN-P) 2013. Belum lama disahkan, asumsi makro sudah meleset lagi.
Dalam pembicaraan antara pemerintah yang diwakili Menteri Keuanagn Chatib Basri dengan Badan Anggaran DPR soal APBN 2014 kemarin, disinggung tentang prospek realisasi asumsi makro di tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Pertumbuhan Ekonomi: Turun jadi 5,9% dari APBN-P 2013 sebesar 6,3%
- Inflasi: 9,2% dari APBN-P 2013 sebesar 7,2%
- Bunga Surat Perbendaharan Negara (SPN) 3 bulan: 5% atau sama dengan APBN-P 2013
- Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar: Rp 10.200/US$ dari APBN-P 2013 Rp 9.600/US$
- Harga Minyak Indonesia (ICP): US$ 105 per barel dari APBN-P 2013 US$ 108/barel
- Lifting Minyak dan Gas Bumi: 2,041 juta barel setara minyak per hari dari APBN-P 2013 sebesar 2,08 juta barel setara minyak per hari
"Tentu sumbernya dari motor konsumsi. konsumsi rumah tangga yg msh bisa tumbuh 5%-an dan konsumsi pemerintah. Konsumsi RT masih bisa berkisar segitu, tapi PMTB-nya (pembentukan modal tetap bruto/investasi) bisa lebih rendah dari perkiraan kita. Akibat dari perlambatan ekonomi global," ungkap Chatib.
Sementara itu untuk perkiraan asumsi makro di 2014, pemerintah mempunyai perkiraan sebagai berikut:
- Pertumbuhan ekonomi 5,8%-6,1%
- Inflasi 4,5%-5,5%
- Bunga SPN 3 bulan adalah 5,5%
- Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Rp 10.000-Rp 10.500/US$
- Harga Minyak Indonesia (ICP) US$ 106/barel
- Lifting Migas sebesar 2,11 juta barel setara minyak per hari











































