Ini Kata Chairul Tanjung Soal Krisis 2008 dan Kondisi Saat Ini

Ini Kata Chairul Tanjung Soal Krisis 2008 dan Kondisi Saat Ini

Zulfi Suhendra - detikFinance
Jumat, 30 Agu 2013 09:33 WIB
Ini Kata Chairul Tanjung Soal Krisis 2008 dan Kondisi Saat Ini
Jakarta - Banyak kalangan menyebut Indonesia tengah di ambang krisis. Seolah kondisi saat ini mengingatkan pada kondisi ekonomi di tahun 2008 silam.

Namun, pengusaha sekaligus Ketua Umum Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung berpandangan kondisi saat ini berbeda jauh dengan tahun 2008.

"Kalau 2008 itu krisis terjadi di Amerika yang mengakibatkan perekonomian dunia terganggu pertumbuhannya, karena pertumbuhan ekonomi Amerika itu dalam kondisi yang dalam sekali. Kalau sekarang, terbalik. Kondisi Amerika membaik, ekonominya safe, stimulus yang dikeluarkan sewaktu krisis 2008 sudah saatnya menurut pemerintah Amerika ditarik kembali," kata Chairul saat ditemui detikFinance usai peresmian Menara Bank Mega Kuningan, Jakarta yang dikutip Jumat (30/8/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

CT sapaan akrab Chairul menjelaskan, kondisi saat ini justru terbalik. Pada tahun 2008, stimulus diberikan ke beberapa negara berkembang termasuk Indonesia. Saat ini, stimulus tersebut ditarik kembali yang menyebabkan melemahnya rupiah.

"Uang yang tadinya sudah dibelikan saham, government bond, corporate bond segala macam, deposito sekarang ketarik semua. Nah, jadi penarikan dolar besar-besaran. Penarikan ini memperkuat dolar, melemahkan rupiah," lanjutnya.

Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut hingga pertengahan tahun depan. Tahun politik di 2014 sangat mempengaruhi para investor yang masuk ke Indonesia. Menurut CT, investor tidak ingin berspekulasi untuk berinvestasi sebelum pemilu selesai.

"Mereka nggak mau berspekulasi naruh uangnya. Nah kalau begitu total investasi kita menjadi turun, kalau turun uang dolarnya nggak masuk, (tapi) kalau investasi tinggi, uang yang dolar masuk ditukerin rupiah. Akibatnya apa, masuklah cadangan devisa," papar dia.

Dikatakan CT, dirinya menyikapi positif apa yang dilakukan BI dengan menaikkan BI rate menjadi 7%. Karena menurutnya, itu merupakan upaya yang sangat baik dalam memperbaiki kondisi ekonomi saat ini.

"Untuk supaya daya tarik si rupiah menjadi lebih menarik. Kalau rupiahnya menarik, orang mau menukarkan dolar kepada rupiah, dan menguat lagi. Sebenarnya yang kita perlu jaga adalah keseimbangan baru. Itu intinya perbedaan krisis 2008," jelasnya.

"Otoritas monter dan fiskal harus seiring sejalan, tidak boleh satu-satu apalagi bertentangan," imbuh Chairman CT Corp ini.

(zlf/dru)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads