Defisit Anggaran Makin Besar, Investor Asing Bakal Cabut dari RI

Defisit Anggaran Makin Besar, Investor Asing Bakal Cabut dari RI

Rista Rama Dhany - detikFinance
Selasa, 17 Sep 2013 13:16 WIB
Defisit Anggaran Makin Besar, Investor Asing Bakal Cabut dari RI
Jakarta - Pemerintah harus melakukan berbagai cara agar defisit neraca pembayaran atau current account tidak terlalu besar. Jika tidak, maka arus modal asing (capital outflow) akan makin deras kabur dari Indonesia.

Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Mirza Adityaswara mengatakan Amerika Serikat saat ini mengurangi stimulus likuiditasnya, hal ini akan menyebabkan uang dolar akan kembali ke Amerika.

"Amerika yang tadinya mengucurkan stimulus likuiditas besar sekali, triliunan dolar sejak 2008-2013 saat ini pelan-pelan akan mengurangi," ucap Mirza ketika ditemui di Gedung Paripurna DPR, Selasa (17/9/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Mirza, situasi tersebut akan menjadi masalah khususnya bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

"Jadi kita semua Indonesia dan negara berkembang lainnya akan menghadapi problem dari modal asing yang keluar, ini adalah tren dunia, jadi kita harus menghadapinya dengan baik, agar supaya keluarnya modal asing ini tidak terlalu banyak," kata Mirza yang telah terpilih mendampingi Gubernur BI Agus Marto sebagai Deputi Gubernur Senior.

Kata Mirza, tidak mungkin untuk menahan modal asing keluar dari Indonesia dengan situasi saat ini, agar modal yang keluar tidak banyak Indonesia harus segera mengatasi masalah fundamental ekonominya.

"Masalah fundamental ekonomi Indonesia, kalau dari sisi fiskal dan moneter kita harus selesaikan neraca pembayaran yakni current account, neraca impor dan ekspor barang dan jasa kita defisit dan defisitnya itu sudah di atas normal," ungkapnya.

Kata Mirza mengapa defisit neraca pembayaran Indonesia di atas normal, sebenarnya defisit yang normal itu curent accountnya sebesar 2% dari PDB (Product Domestik Bruto).

"2% defisit current account dari PDB ini bagi negara berkembang normal, tapi kalau sudah di atas 3% sudah dianggap tidak normal, bahkan kita di kuartal II sempat angkanya mencapai 4,4% dari PDB," jelasnya.

Untuk menekan defisit neraca pembayaran atau transaksi berjalan yang di atas normal tersebut kata Mirza tidak hanya bisa dengan kenaikkan suku bunga, harus ada penekanan impor.

"Intinya impor harus diturunkan, impor migas termasuk BBM sangat besar, ini harus ditekan segera, dan untuk sementara saat ini terpaksa suku bunga dinaikkan, untuk sementara waktu pertumbuhan kredit harus diturunkan, ini untuk menjadi agar arus modal asing tidak banyak yang keluar," tandas Mirza.

(rrd/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads