Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don P Utoyo mengatakan peternak ayam sama sekali tidak menikmati keuntungan yang besar dari kenaikan harga ayam di tingkat ecer. Peternak justru menjual ayam di bawah ongkos produksi.
"Kenaikan harga ayam ini bikin bingung masyarakat dengan tujuan 'profit taking', mengorbankan peternak produsen yang sering rugi," ungkap Utoyo kepada detikFinance, Jumat (27/9/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekitar Lebaran atau dari tanggal 5 sampai 15 Agustus 2013 tetasan atau anak ayam hanya 25-35% karena order dari peternak dan pegawainya masih libur atau mudik. Beberapa hari setelah mudik Lebaran belum maksimal. Pembesaran ayam dan persiapan butuh 30-33 hari, sehingga pada bulan September terutama minggu pertama hingga tanggal 18 September pasar agak kurang pasokan," imbuhnya
Justru pada masa pembesaran, peternak dihadapi kenaikan harga pakan dan bibit ayam sebagai akibat pelemahan nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat. Harga pakan dan bibit ayam naik sekitar 20%.
Dampaknya adalah ongkos produksi ayam menjadi naik Rp 18.500/kg hingga Rp 19.000/kg. Sementara harga jual ayam potong di tingkat peternak pada kisaran Rp 21.000 - Rp 22.000/kg.
"Pedagang gaduh, mereka jual ayam potong dipasar tinggi sampai Rp 39.000-Rp 40.000/kg. Seharusnya jual Rp 34.000- Rp 36.000/kg sudah untung. Bahkan hari-hari ini dipaksa turun lagi di bawah biaya produksi ayam potong, peternak rugi. Tapi coba lihat di pasar, harga ayam potong di pasar masih tinggi," katanya.
(wij/hen)










































