Runtuhnya Kejayaan Sang Logam Mulia Emas

Runtuhnya Kejayaan Sang Logam Mulia Emas

Herdaru Purnomo - detikFinance
Selasa, 08 Okt 2013 13:10 WIB
Runtuhnya Kejayaan Sang Logam Mulia Emas
Jakarta - Kilau emas semakin pudar di tengah ketidakstabilan ekonomi global. Akankah kejayaan sang logam mulia ini runtuh?

Gubernur Bank Sentral AS, Ben S Bernanke baru saja mengungkapkan sedikit kekecewaannya terhadap emas akibat harganya yang tidak bisa diprediksi. Bernanke mengatakan tidak mengerti arah dari harga emas.

AS merupakan negara yang menderita banyak kerugian akibat jatuhnya harga emas. Bayangkan, negeri Paman Sam ini menderita kerugian hingga US$ 545 miliar atau sebesar Rp 5.000 triliun sejak tahun 2011 karena mengumpulkan emas di cadangan devisanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tak ada yang mengerti mengenai harga emas, saya pun demikian," ungkap Bernanke.

Bank Sentral AS menguasai 18% kepemilikan emas di dunia. Bahkan baru saja cadangan devisa yang berbentuk logam mulia ini ditambahkan sekitar 350 ton lagi atau mencapai US$ 15 miliar. Demikian laporan dari World Gold Council seperti dikutip detikFinance, Selasa (8/10/2013).

Ketika bank sentral berlomba-lomba untuk membeli emas, hal ini menyebabkan investor ritel pun ikut berinvestasi. Akhirnya, investor pun kecewa akibat harganya yang jeblok.

Sebut saja George Soros, pakar investasi ini pun mengalami kerugian dari sisi asetnya hingga US$ 26 miliar akibat menjual emas di harga murah.

Sejak April 2013 ini, harga emas sudah melorot hingga 21% ke level US$ 1.316 per troy ounce. Penurunan ini terparah sejak 1981 lalu.

Para pelaku kebijakan, yang bertanggung jawab untuk melindungi perekonomian mereka dari inflasi juga merasa kebingungan dan tidak tepat ketika memutuskan untuk berinvestasi emas. Termasuk ketika membuat keputusan membeli dan menjual emas.

Mereka mengurangi kepemilikan bullion ketika mencapai titik terendahnya pada 20 tahun pada tahun terakhir.

"Bank-bank sentral telah biasanya membeli ketika Anda mungkin harus menjual dan menjual ketika Anda mungkin harus membeli," kata Kepala Ekonom Commonfund Michael Strauss.

Hal ini menyebabkan kerugian bank-bank sentral di dunia.

Orang terkaya AS, Warren Buffett, mengatakan logam tidak memiliki utilitas hanya sekali ditambang saja.

Bagaimana nasib emas ke depan?

Kemilau harga emas diprediksi beberapa analis bakal meredup. Harga logam mulia ini cenderung lesu dari hari ke hari.

Puncak kenaikannya yaitu dua tahun silam, emas memecahkan rekor harga tertinggi di US$ 1.906 per troy ounce, Agustus 2011. Pada tahun 2011, emas bahkan sempat menyentuh US$ 1.923,7 per troy ounce. Harga emas batangan di pasar domestik pun mendekati Rp 600.000 per gram.

Tetapi, satu demi satu manajer investasi kelas kakap dunia memangkas proyeksi harga emas mereka. Goldman Sachs melontarkan prediksi bahwa harga emas tahun ini akan parkir di kisaran US$ 1.600 per troy ounce, turun dari prediksi Goldman semula di harga US$ 1.810 per troy ounce.

"Penurunan harga saat ini sejalan dengan kenaikan bunga riil Amerika Serikat (AS). Itu mencerminkan kombinasi dari membaiknya data ekonomi AS, menurunnya ketidakpastian kebijakan AS, dan berkurangnya kekhawatiran krisis utang Eropa," kata analis di Goldman Sachs.

(dru/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads