Kegiatan mengoleksi duit lama dikenal dengan istilah lain yaitu numismatik. Sudah sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, pada tahun 1970-an, Arifin menyukai duit-duit lama.
Arifin mengatakan, keindahan duit itu terletak pada lukisan yang tercetak di lembaran-lembarannya. Dia bilang, lukisan itu unik dan berbeda dengan yang diperlihatkan di pameran-pameran lukisan. “Dipandang berkali-kali pun tidak akan bosan,” ujarnya, tersenyum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi sebagian orang, ketika lembaran uang sudah tak berlaku maka uang itu sudah kehilangan nilainya. Tapi tidak bagi sebagian orang lain, ya orang-orang seperti Arifin, memandang uang tak sekedar sebagai alat tukar, tapi sebagai bahan koleksi. Makin tua, makin bernilai.
Geoffrey Cope, seorang numismatis asal Inggris, mengatakan hobi ini bukan sembarang hobi. “Kami bukan hanya mempelajari bentuk dan rupa uang. Namun kami memiliki sepenggal kisah sejarah manusia,” katanya.
Sejak zaman Romawi, orang sudah mengoleksi uang lama. Contohnya Kaisar Agustus, yang mengumpulkan koin-koin lama yang dikeluarkan pendahulunya dan koin-koin dari negara lain. Contoh kolektor lainnya adalah Paus Bonifisius VII dan Raja Prancis Louis XIV.
Tapi numismatik modern bisa dikatakan bermula sejak abad ke-19, ditandai dengan berdirinya The Royal Numismatic Society di Inggris pada 1836. Pada 1858 menyusul berdiri American Numismatic Society.
Sedangkan di Indonesia numismatik dikenal sejak zaman Hindia Belanda. Ketika itu banyak anggota Bataviaasch Genootschap (Ikatan Kesenian dan Keilmuan Batavia) mengumpulkan koin-koin kuno yang saat ini masih tersimpan di Museum Nasional.
Namun wadah bagi pehobi numismatik baru berdiri pada 1972. Perhimpunan Penggemar Koleksi Mata Uang (PPKMU) namanya.
Menurut Amin, pemilik toko Esenta yang menjual uang kuno, Indonesia sebenarnya merupakan surga bagi numesmatik. Soalnya Indonesia memiliki banyak varian mata uang sesuai periode sejarah yang dialami bangsa ini.
“Ada uang zaman Belanda, zaman Jepang, uang yang terkena sanering (Pemotongan nilai uang), banyak sekali. Kita semua semestinya tahu. Masa orang Indonesia tidak kenal uangnya sendiri?” kata Amin.
(/)











































