Ini Alasan Perusahaan Larang 'Koboi' Bawa Pistol

Pro Kontra 'Koboi' Kantoran di AS (2)

Ini Alasan Perusahaan Larang 'Koboi' Bawa Pistol

Deddy Sinaga - detikFinance
Senin, 21 Okt 2013 12:05 WIB
Ini Alasan Perusahaan Larang Koboi Bawa Pistol
Foto: safeandempowered.com
Jakarta - Pekerja di pabrik pengolahan ayam Accent Signage Systems di Minneapolis tak pernah membayangkan tempat mereka mencari nafkah telah menjadi lokasi pembunuhan. Adalah Lawrence Jones yang mengubah keadaan itu, setelah dirinya dipecat pada 2011.

Jones menembak dan menewaskan dua rekan kerjanya sementara dua orang lainnya terluka parah. Setahun sebelumnya, kasus pemecatan juga membangkitkan amarah Rocky T. Christian. Dia menembak bosnya sendiri setelah dipecat dari Build Direct Floor di Apopka, Florida.

Pada 2012 sebanyak 375 karyawan tewas karena peristiwa seperti itu. Dengan tingginya angka kekerasan dan penembakan, banyak manajer dilanda kekhawatiran. Oleh sebab itu, timbullah ide membuat kebijakan internal yang melarang karyawan membawa-bawa senjata api, termasuk menyimpannya di area parkir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mark Hogan, Wakil Presiden FedEx Express di Tennessee, mengatakan pelarangan itu akan membuat karyawan bisa meredakan emosi sebelum bertindak emosional dan irasional dalam merespons sesuatu di tempat kerja.

Bagi sejumlah perusahaan dengan karyawan yang besar jumlahnya, beberapa jenis pertemuan memang rentan menyebabkan timbulnya perilaku kekerasan. Misalnya rapat pendisiplinan atau rapat pemutusan hubungan kerja. Rapat semacam ini bisa terjadi setiap hari.

Jeffrey Pasek, seorang pakar undang-undang perburuhan di Philadelphia, mengatakan dirinya pernah menyaksikan sebuah rapat pemecatan yang dijaga sepasukan orang bersenjata dan pejabat perusahaan itu memakai rompi anti peluru.

β€œAda lagi rapat pemecatan yang dilakukan di ruang rapat di bandar udara, supaya karyawan yang ikut rapat harus melewati pemindaian keamanan terlebih dahulu,” kata Pasek, tersenyum.
Β 
Alasan perusahaan ini didukung pula hasil penelitian. CareFusion, sebuah perusahaan teknologi kedokteran, melakukan studi untuk meneliti fenomena yang telah menewaskan 375 karyawan pada 2012 itu.

Pada studi yang dimuat di Jurnal Kesehatan Masyarakat, ditemukan fakta bahwa perusahaan yang tak punya peraturan melarang karyawan membawa senjata api, lima kali berisiko mengalami kasus seperti Jones dan Christian.

Masalahnya, aksi bawa-bawa senjata ke tempat kerja didukung oleh pembela hak bersenjata api. Mereka beralasan, karyawan adalah individu yang berhak membawa senjata demi keselamatannya sendiri, apalagi kalau hanya sampai tempat parkir.

Pembelaan ini kemudian didukung oleh 23 negara bagian yang lalu membuat undang-undang. Isinya senada, mereka melarang perusahaan membuat aturan pembatasan senjata api ke area parkir.

Kalau sudah begini, CareFusion menyarankan manajemen mengembangkan kebijakan pendeteksian dini perilaku karyawannya. Para manajer di perusahaan disarankan untuk mencatat secara detil perilaku tak biasa karyawannya, mulai dari perilaku tak pantas, munculnya ancaman, sampai aksi bullying.Β 

(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads