Namun, Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan Bulog cukup sulit mencari atau membeli kedelai lokal karena ketiadaan pasokan.
"Baru 84 ton kedelai lokal yang baru kita serap. Cukup sulit karena barangnya nggak ada. Total komitmen serap kedelai lokal oleh Bulog tahun ini mencapai 25.000 ton karena mendapatkan izin impor kedelai 100.000 ton," tutur Sutarto saat ditemui di Gedung DPR Jakarta, Selasa (22/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita membeli kedelai petani sesuai peraturan yang sudah diarahkan yaitu Rp 7.400/kg," imbuhnya.
Sedangkan untuk realisasi impor 100.000 ton kedelai, Bulog belum bisa mendatangkan dalam waktu dekat. Hal ini karena masih tingginya harga kedelai di tingkat internasional ditambah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pembebasan bea masuk impor kedelai menjadi 0% hanya mengurangi harga kedelai tetapi tidak signifikan.
"Kedelai impor sebanyak 100.000 ton itu belum masuk, kita lagi hitung-hitung dan sedang mencari penawar (kedelai) dengan harga terbaik. Yang sudah menawarkan adalah dari Amerika Serikat, Brasil dan sudah dapat juga dari Argentina kita akan pelajari. Logikanya rencana harga di tingkat perajin tidak boleh melebihi Rp 9.000/kg lebih atau maksimum Rp 8.500 per Kg," tuturnya.
Menurutnya pembebasan bea masuk impor harusnya berpengaruh lebih murah Rp 400/kg, tetapi kemungkinan ada biaya lainnya yang bisa membuat harga kedelai sampai di dalam negeri tetap mahal.
Sutarto menegaskan apabila berat secara bisnis, harga kedelai dinilai tidak ekonomis, Bulog bisa saja membatalkan untuk mendatangkan 100.000 ton kedelai impor.
"Kita masih menghitung kalau mahal bisa saja batal karena ini kan bisnis tetapi kita berusaha untuk penuhi itu. Mestinya kalau tugas stabilisasi harus ada subsidi. Bisnis ini bukan stabilisasi jadi harus dihitung dan kita nggak boleh rugi. Yang kita usulkan mestinya impor dengan harga berapapun dan Bulog menjual harga tertentu selisihnya dibayar pemerintah," jelasnya.
(/)











































